JAKARTA, (SOROT1.ID) — Karina Aliya Afandi, seorang model muda asal Surabaya, menunjukkan antusiasme yang tinggi dalam mengikuti proses open casting film terbaru yang digarap oleh Bayu Skak. Acara tersebut diadakan bersama Skak Studios dan Sinemart di Kaza Mall Surabaya pada hari Sabtu (27/6/2026). Proses seleksi ini menjadi tantangan tersendiri bagi Karina karena film FoUfo membutuhkan pemahaman mendalam tentang bahasa dan budaya Madura.
Film FoUfo mengangkat kisah keluarga yang dibalut dengan elemen komedi dan fiksi ilmiah (sci-fi) serta nuansa budaya Jawa Timur. Dialog utama dalam film ini menggunakan bahasa Madura, yang dipadukan dengan bahasa Jawa dan Indonesia. Hal ini membuat proses casting tidak mudah, terutama bagi para peserta yang berasal dari latar belakang berbeda.
Bagi Karina, hadirnya film bertema kedaerahan seperti FoUfo menjadi angin segar bagi industri perfilman nasional. Ia menilai bahwa budaya, adat istiadat, hingga bahasa daerah layak diangkat menjadi tontonan yang dapat dinikmati oleh seluruh masyarakat Indonesia.
“Membintangi film dengan tema kedaerahan adalah keinginan saya sejak beberapa tahun terakhir,” ujarnya.
Ketertarikan Karina terhadap film FoUfo juga didorong oleh pengalamannya sebelumnya. Sebelumnya, ia pernah terlibat dalam serial Lara Ati dan kini kembali bekerja sama dengan Bayu Skak. “Setelah membintangi serial Lara Ati, saya diberi kesempatan lagi oleh Kak Bayu Skak untuk bermain di film FoUfo,” katanya.
Proses casting FoUfo tidak hanya menuntut kemampuan akting, tetapi juga pemahaman terhadap karakter dan nuansa bahasa Madura.
Menurut Karina, pemahaman karakter menjadi kunci agar bisa memerankan tokoh secara meyakinkan.
“Kebanyakan peserta casting juga orang Madura, jadi saya benar-benar harus memahami karakter yang saya mainkan,” ujarnya.
Sebelum mengikuti casting, Karina mempersiapkan diri dengan mempelajari budaya Madura, mulai dari cara berbicara, dialek, hingga kebiasaan masyarakat yang menjadi bagian dari cerita film. Pengalaman di dunia hiburan juga menjadi modal penting untuk meningkatkan rasa percaya dirinya saat mengikuti proses seleksi.
Tantangan lain yang dihadapi Karina adalah memerankan karakter dengan nuansa romantis yang belum banyak ia eksplorasi sebelumnya. Meski sempat merasa minder karena harus beradu akting dengan para pemain berpengalaman, ia memilih mengatasinya dengan terus berlatih.
“Saya banyak belajar, mengulang-ulang naskah, serta memperhatikan mimik dan ekspresi agar tepat di setiap adegan,” tuturnya.
Selain itu, suasana syuting menjadi lebih nyaman karena beberapa peserta casting telah dikenalnya.
“Ada beberapa pemain yang sudah saya kenal sebelumnya, jadi rasanya seperti berada di dalam keluarga sendiri,” ujarnya.
Menurut Karina, bermain di film layar lebar memiliki standar yang berbeda dibandingkan serial.
“Di film layar lebar, kita harus bermain dengan sempurna, mengulang dialog dengan baik, dan benar-benar menjiwai karakter. Banyak pengalaman berharga yang saya dapatkan,” katanya.
FoUfo menawarkan sesuatu yang berbeda dari tren film Indonesia saat ini yang didominasi genre horor.
“Perpaduan drama keluarga, komedi, unsur sci-fi, serta budaya lokal menjadi kekuatan utama film ini,” ujarnya.
Ke depan, Karina ingin terus membuka peluang di dunia akting tanpa membatasi diri pada satu bidang.
“Saya ingin mencoba banyak hal. Kalau memang karier saya berkembang di dunia akting, tentu saya akan melanjutkannya,” katanya.
Ia berharap debutnya di layar lebar dapat diterima masyarakat sehingga membuka kesempatan memerankan karakter yang lebih beragam di masa mendatang. Di tengah ketatnya persaingan industri hiburan, Karina berpesan agar anak muda tidak takut mencoba dan terus percaya pada kemampuan diri sendiri.
“Jangan takut dan minder. Keluarkan setiap potensi yang ada karena saya percaya setiap orang diberi potensi oleh Tuhan.”
Dukungan keluarga menjadi faktor terbesar yang mengantarkannya hingga berada di titik sekarang. Selain itu, ia berterima kasih kepada Bayu Skak yang telah memberikan kepercayaan kepadanya untuk meniti karier di dunia perfilman.
Film FoUfo disutradarai oleh Bayu Skak, dengan produser Bayu Skak dan Ricky R Setiawan, serta produser eksekutif David Suwarto. Film ini juga berkolaborasi dengan studio lokal asal Surabaya, Hompimpa, untuk mendesain dan mengembangkan animasi karakter aliennya. Kolaborasi ini menjadi bentuk komitmen penghormatan terhadap talenta kreatif lokal di tengah gempuran kecerdasan buatan (AI). (***)
Editor : Ramadhan








Komentar