BATAM, (SOROT1.ID) – Ruang mediasi di Polsek Batu Ampar, Sabtu (4/7/2026), menjadi saksi berakhirnya drama utang-piutang yang sempat viral di jagat maya. Di ruangan tersebut, Hernani (47) dan WN (41) duduk bersisian, bukan sebagai pelapor dan terlapor, melainkan sebagai dua pihak yang sepakat untuk membuka lembaran baru.
Kasus yang sempat memicu riuh di media sosial terkait dugaan perampasan motor di Melcem, Batu Ampar, Senin (29/6/2026) lalu, kini telah menemukan titik terang.
Kabar miring yang menuding adanya pembiaran oleh pihak kepolisian ditepis langsung oleh Kanit Reskrim Polsek Batu Ampar, Iptu Eko Kurniawan.
Ia menegaskan, kepolisian tidak bekerja di balik meja, melainkan langsung terjun ke akar permasalahan.
”Begitu laporan masuk, personel kami langsung berkoordinasi dengan Ketua RW dan Bhabinkamtibmas di lokasi. Tugas kami bukan hanya melakukan penindakan, tapi juga mencari solusi agar masalah tidak berlarut dan merugikan kedua pihak,” ujar Iptu Eko.
Konflik ini sebenarnya merupakan masalah klasik yang sensitif: utang-piutang. Pinjaman awal Rp1,5 juta yang tergerus bunga hingga menjadi Rp2,7 juta menjadi pemicu penarikan paksa sepeda motor.
Di meja mediasi, polisi berperan sebagai penengah yang adil. Dengan pendekatan Restorative Justice, mereka mengurai angka tersebut kembali ke nilai pokok. Hasilnya, WN setuju untuk mengembalikan motor tersebut, dan Hernani berkomitmen menyelesaikan tanggung jawabnya dengan nominal yang masuk akal.
Ketua RW setempat, Siti Fatimah, yang hadir sebagai saksi, melihat langsung bagaimana emosi yang tadinya meluap perlahan mereda.
“Kepolisian memfasilitasi dialog yang sangat tenang. Akhirnya, keduanya menyadari bahwa jalan damai jauh lebih baik daripada meneruskan perseteruan,” ungkapnya.
Salah satu poin paling krusial yang sempat memicu kemarahan publik adalah isu penganiayaan. WN dengan tenang mengklarifikasi bahwa tidak ada niat untuk menyakiti.
”Beliau (Hernani) tersungkur saat ada insiden perebutan kunci, bukan karena dipukul atau dianiaya. Saya menghargai itikad baiknya untuk duduk bersama hari ini,” kata WN.
Hernani, sebagai sosok yang berada di pusat badai informasi tersebut, akhirnya angkat bicara. Ia merasa perlu untuk meluruskan narasi yang sempat dipelintir oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab di media sosial.
”Saya ingin tegaskan, tidak ada paksaan. Polsek Batu Ampar mendampingi saya dengan sangat baik dari awal sampai motor saya kembali. Video yang beredar di luar sana tidak sepenuhnya menggambarkan apa yang sebenarnya terjadi,” ujar Hernani dengan nada bicara yang tenang.
Ia menambahkan bahwa keputusannya untuk tidak melanjutkan ke jalur hukum resmi adalah murni keinginannya sendiri setelah melihat motor kesayangannya kembali dan solusi damai tercapai.
Kasus ini berakhir dengan cara yang elegan. Polsek Batu Ampar berhasil membuktikan bahwa kehadiran polisi di tengah masyarakat bukan sekadar untuk menangkap, tetapi untuk mengayomi dan menyelesaikan persoalan di tingkat akar rumput.
Dengan berakhirnya polemik ini, Polsek Batu Ampar kembali mendapatkan apresiasi karena mampu menjalankan fungsi Restorative Justice secara tepat sasaran, mengubah konflik menjadi rekonsiliasi yang menyejukkan. (Red)
Editor : Ramadhan














Komentar