oleh

Reza Tak Lagi di Rutan Salemba, Kini Jadi Film: Bukti Nyata Kesempatan Kedua Ada

-Film-2 Dilihat
banner 468x60

JAKARTA, (SOROT1.ID) — Stigma negatif sering kali melekat pada kehidupan di balik jeruji besi. Namun, melalui film pendek berjudul “SINTAS”, Rutan Kelas I Salemba Jakarta Pusat mencoba membantah pandangan tersebut dengan menunjukkan bahwa harapan dan kesempatan kedua itu nyata adanya. Film ini tidak hanya menjadi wadah untuk menyampaikan pesan positif, tetapi juga sebagai bukti bahwa sistem pemasyarakatan kini lebih fokus pada pembinaan daripada sekadar kurungan fisik.

Film “SINTAS” diangkat dari kisah nyata dan disutradarai langsung oleh Reza Bukan, yang juga merupakan mantan warga binaan. Hal ini memberikan nuansa autentik pada setiap adegan yang tayang. Selain itu, aktor-aktor lainnya yang terlibat juga berasal dari lingkungan lapas, mulai dari sipir hingga tokoh agama yang berkhutbah di dalam rutan. Kolaborasi antara Rutan Jakarta Pusat dan Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan ini menunjukkan komitmen bersama dalam membangun sistem yang lebih manusiawi.

banner 336x280

Di balik sistem pengamanan yang ketat, terdapat berbagai program pembinaan yang bertujuan memberikan kesempatan bagi warga binaan untuk memperoleh pendidikan, mengembangkan keterampilan, menjaga kesehatan fisik dan mental, serta membangun karakter. Program-program ini dirancang agar warga binaan dapat mempersiapkan diri untuk kembali menjalankan fungsi sosial di tengah masyarakat.

Nilai kekeluargaan, kepedulian, dan kesempatan kedua menjadi pesan utama yang ingin disampaikan kepada publik melalui film ini. Dengan menampilkan kisah nyata, film ini berusaha mengubah persepsi masyarakat tentang warga binaan dan menunjukkan bahwa mereka juga memiliki potensi untuk berubah dan berkembang.

Reza Bukan, sutradara film “SINTAS”, mengungkapkan bahwa seluruh alur cerita dalam film ini berakar dari pengalaman pribadinya saat menjalani masa pembinaan. Bagi Reza, karya ini adalah refleksi jujur mengenai sebuah proses perubahan. Ia menegaskan bahwa proses kembali ke masyarakat bukanlah sesuatu yang instan. Perlu ada kesadaran atas konsekuensi dari kesalahan masa lalu, serta keberanian untuk mengambil kesempatan baru.

“Pesan utamanya adalah harapan selalu terbuka bagi siapa pun yang ingin memperbaiki diri. Segelap-gelap apa pun, tetap masih ada harapan selama mereka masih hidup,” tambah Reza.

Direktur Teknologi Informasi dan Kerja Sama Pemasyarakatan, Kadiyono, menilai bahwa film ini berhasil memotret kondisi riil program pembinaan kemandirian dan kepribadian di dalam rutan. Ia memuji bagaimana para warga binaan dan petugas rutan berkolaborasi mengasah bakat terpendam mereka di bawah arahan sutradara profesional.

“Film ini mampu menggambarkan proses pemasyarakatan dengan baik sehingga bisa membangun perspektif yang positif di tengah masyarakat,” kata Kadiyono.

Namun, ia mengingatkan bahwa suksesnya reintegrasi sosial mantan narapidana tidak bisa bertumpu pada petugas semata. Dibutuhkan dukungan penuh dari keluarga, masyarakat, hingga pemerintah daerah agar mereka diterima kembali dengan baik.

Kepala Rutan Kelas I Jakarta Pusat, Wahyu Trah Utomo, menegaskan bahwa film pendek ini merupakan dokumen hidup dari proses transformasi para warga binaan. Pihak rutan ingin publik melihat secara objektif bahwa di dalam rutan, terdapat aktivitas positif mulai dari pendidikan, pelatihan keterampilan, hingga manajemen kesehatan mental.

“Kami ingin masyarakat melihat bahwa di balik tembok rumah tahanan terdapat proses belajar, perubahan, dan harapan yang terus dibangun,” kata Wahyu.

Melalui film “SINTAS”, Rutan Jakarta Pusat berharap dapat menghapus dinding pembatas psikologis antara mantan warga binaan dan masyarakat luas demi masa depan yang lebih inklusif. (***)

Editor : Ramadhan

banner 336x280

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed