BATAM, (SOROT1.ID) – Ketika matahari mulai tenggelam di ufuk barat dan azan Magrib berkumandang pada Selasa malam (15/6/2026), atmosfer di sebagian besar masyarakat Jawa seketika berubah. Malam itu bukan sekadar pergantian angka tahun dalam kalender Jawa-Islam (1 Muharram). Bagi mereka yang memahami spiritualitas Nusantara, inilah Malam Satu Suro—sebuah gerbang waktu sakral di mana dimensi nyata dan gaib diyakini bergesekan, melahirkan energi mistis yang luar biasa besar.
Memanfaatkan momentum dengan getaran metafisika yang mencapai puncaknya ini, tim Kupas7.id melakukan penelusuran eksklusif. Kami mendatangi sebuah tempat yang sudah tidak asing lagi di kalangan pemburu spiritual Kota Batam: Sanggar Paranormal Kondang milik Pangeran Pengasihan, Ki Jala Sutra sosok yang tersohor dengan julukan Raja Pemikat.
Di dalam sanggar yang remang dan sarat akan aroma wewangian khas, Pangeran Pengasihan menyambut kami. Di malam yang sakral ini, ia bersedia membuka tabir dan memaparkan secara gamblang rahasia energi yang bersemayam di dalam koleksi pusaka-pusaka leluhur miliknya.
Keris Nogo Rojo: Jimat Wajib Para Calon ‘Raja’ dan Pengusaha
Di atas meja beludru, sebuah kotak kayu dibuka. Pangeran Pengasihan memperlihatkan salah satu mahakarya paling prestisius dalam budaya perkerisan Jawa: Keris Nogo Rojo (Naga Raja).
Secara fisik, keris dapur Nogo Rojo ini sangat megah. Ciri khas utamanya adalah ukiran naga (kinatah) yang dipahat dengan sangat detail menjalar di sepanjang bilahnya. Sejak zaman kerajaan purba, keris ini selalu dikaitkan dengan simbol kekuasaan, kewibawaan tingkat tinggi, dan trah kepemimpinan.
“Untuk para pengusaha yang punya ambisi besar, atau mereka yang ingin menjadi ‘raja’ dan pemimpin di suatu daerah, wajib hukumnya memiliki atau memegang energi Nogo Rojo ini,” tuturnya dengan nada berwibawa.
Namun, sang paranormal langsung meluruskan persepsi agar tidak terjebak dalam kemusyrikan. Ia menegaskan bahwa kekuatan sejati tetap berada di tangan Sang Pencipta.
“Semua pemberian dan keajaiban ini tidak luput dari kuasa Allah SWT. Pusaka-pusaka ini statusnya hanya sarana pembantu saja. Karena pusaka ini mengandung energi murni, maka keinginan atau hajat kita bisa dilontarkan bersamaan dengan energi tersebut. Kalau niat kita lurus, energi ini akan membantu memuluskan jalan mencapai apa yang kita kehendaki,” jelasnya panjang lebar.
Ia juga mengibaratkan merawat pusaka seperti merenovasi sebuah bangunan.
“Pusaka-pusaka ini pada dasarnya sudah didoakan secara khusus oleh para empu pembuatnya terdahulu. Tugas kita sekarang adalah melakukan renovasi spiritual. Ibarat kita beli rumah, rumah itu bisa kita renovasi menjadi satu lantai atau dua lantai, tergantung seberapa banyak ‘kapasitas tanah’ atau wadah spiritual yang dimiliki si pemilik,” tambahnya.
Dilema Pusaka: Antara ‘Satelit’ Pengasihan Semar Mesem dan Efek Samping Tombak
Pembicaraan mengalir semakin dalam ketika tim sorot1.id menanyakan perihal urusan asmara dan relasi sosial. Untuk urusan ini, Pangeran Pengasihan langsung menunjuk Keris Semar Mesem.
Menariknya, ia membagi kekuatan pusaka pengasihan ini berdasarkan ukuran dan “mahar” yang ditebus oleh peminatnya. Ada hukum kualitas yang berlaku di dunia metafisika:
| Jenis Pusaka Semar Mesem | Karakteristik & Jangkauan Energi |
| Ukuran Besar (Level Satelit) | Energinya sangat masif. Cukup diletakkan di dalam rumah, pancaran energi pengasihannya akan otomatis meluas dan menghinggapi diri si pemilik ke mana pun ia pergi. |
| Ukuran Kecil (Level Tower) | Energinya bekerja seperti menara pemancar. Jangkauannya lebih terbatas dan fokus pada target atau lingkungan yang lebih dekat. |
“Makin tinggi maharnya, makin tinggi pula tingkatan kekuatan pengasihannya,” ungkap sang Pangeran tersenyum.
Namun, dunia spiritual laksana dua sisi mata uang. Jika Semar Mesem membawa kelembutan cinta, ada pula pusaka yang berenergi tajam dan destruktif. Pangeran Pengasihan membeberkan keberadaan Pusaka Tombak yang kerap disalahgunakan sebagai perantara untuk menyakiti orang lain dari jarak jauh.
Meskipun ampuh untuk menyerang, ia memperingatkan adanya karma atau risiko psikologis yang sangat berat bagi pemiliknya. “Pemilik tombak jenis ini biasanya akan berubah menjadi orang yang sangat temperamental, mudah marah, hingga mengalami gangguan psikologis atau mental yang tidak stabil,” sebutnya memperingatkan.
Dwisula: Tameng Gaib Pembalik Santet
Sebagai pamungkas di malam yang semakin larut, Pangeran Pengasihan menunjukkan senjata pamungkas untuk pertahanan diri: Dwisula. Ini adalah tombak legendaris yang memiliki dua ujung mata tajam bercabang, sebuah senjata yang konon kerap digunakan oleh para ‘raja bawah’.
Fungsi utama Dwisula bukanlah untuk menyerang secara membabi buta, melainkan sebagai penolak bala dan penetralisir energi negatif tingkat tinggi, termasuk serangan santet, guna-guna, atau sihir.
“Dwisula ini bekerja dengan cara yang unik. Dia akan menyerap seluruh energi negatif atau kiriman jahat yang ditujukan ke rumah atau pemiliknya, lalu energi itu akan dilontarkan atau dikembalikan lagi secara utuh kepada si pengirimnya,” pungkas Pangeran Pengasihan.
Malam Satu Suro di Sanggar Pangeran Pengasihan Batam ini memberikan kita pelajaran berharga. Di balik modernitas dunia saat ini, eksistensi pusaka bukan sekadar benda kuno yang berdebu. Di dalam bilah-bilah besi tua itu, tersimpan kristalisasi doa, filosofi kepemimpinan, dan benteng spiritual yang masih dipercaya nyata oleh sebagian masyarakat hingga detik ini.
Bagi pelaku usaha, warga Batam, atau siapa saja yang ingin membentengi diri dari pengaruh negatif energi hitam, ataupun ingin berkonsultasi mengenai pengembangan diri dan bisnis melalui jalur spiritual yang bersih, Ki Jala Sutra membuka ruang diskusi secara terbuka.
Pusat Informasi & Konsultasi Spiritual:
-
Alamat: Perumahan Villa Delta Blok N, No. 22, Tiban Baru, Sekupang, Batam.
-
Hotline WhatsApp: 08117712342
-
Media Sosial Resmi:
-
Facebook: Ki Jala Sutra
-
Instagram: @Ki_Jalasutra
-
TikTok: @Ki_jala_sutra_official.
-
(Tim Sorot1.id/Red)
Editor : Ramadhan














Komentar