oleh

Kepala SMPN 1 Sampit: Video Viral Ulat di BMG Hanya Kesalahpahaman Siswa

-Berita-18 Dilihat
banner 468x60

Klarifikasi Kepala Sekolah Mengenai Video Viral di SMPN 1 Sampit

Kepala Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 1 Sampit, Suyoso, akhirnya memberikan pernyataan resmi terkait video yang viral di media sosial dan menunjukkan dugaan adanya ulat pada menu Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diberikan kepada siswa. Peristiwa ini terjadi pada Senin (17/11/2025), dan pihak sekolah segera melakukan investigasi untuk memastikan kebenarannya.

Menurut Suyoso, pihak sekolah telah melakukan penelusuran dan pemeriksaan terhadap laporan tersebut. Ia menjelaskan bahwa siswa yang merekam dan mengunggah video itu mengalami salah persepsi terhadap isi makanan yang diterima. Siswa tersebut mengira ada ulat dalam telur, padahal warna atau bentuk yang dilihatnya berasal dari campuran saus atau mayones yang tercampur dalam adonan telur.

banner 336x280

“Siswa tersebut terpengaruh oleh pemberitaan yang selama ini muncul mengenai MBG. Ia berimajinasi bahwa garis pada telur itu adalah ulat. Setelah kami cek, baik secara langsung maupun melalui dapur penyedia, hal itu tidak terbukti,” jelas Suyoso.

Ia menambahkan, berdasarkan peninjauan ulang dan pemeriksaan CCTV, tidak ditemukan benda asing di dalam makanan seperti yang disampaikan dalam video. Bahkan telur yang dianggap bermasalah itu ikut dimakan bersama siswa lainnya tanpa keluhan tambahan.

“Fakta di lapangan menunjukkan siswa-siswa lain menikmati makanannya seperti biasa. Tidak ada imajinasi yang sama dengan siswa yang membuat video tersebut. Laporannya pun menunjukkan makanan habis,” ungkapnya.

Penjelasan Lebih Lanjut Mengenai Bahan Makanan

Suyoso menegaskan, pihak sekolah memastikan tidak ada belatung ataupun benda asing seperti yang ramai disebutkan. Hal itu diperkuat oleh hasil pemeriksaan dapur penyedia yang menunjukkan bahwa bagian yang disangka ulat merupakan campuran saus atau mayones yang menempel pada telur.

Ia juga menyampaikan bahwa siswa yang bersangkutan sudah diberi pembinaan agar tidak mudah menyampaikan informasi tanpa memahami fakta yang sebenarnya. Pihak sekolah juga memberikan penguatan pemahaman kepada seluruh siswa agar menyampaikan setiap keluhan melalui guru sebagai jalur resmi.

“Sebagai bentuk perlindungan anak, setiap informasi harus disampaikan melalui guru pembina agar bisa diklarifikasi dan dikoordinasikan dengan pihak terkait. Kami ingin siswa lebih berhati-hati dan berpegang pada fakta,” ujarnya.

Tanggapan dari Penyedia Makanan

Sementara itu, Kepala SPPG Dinda Tulus menyampaikan bahwa pihaknya telah melakukan evaluasi bersama sekolah terkait peristiwa ini. Ia menyebut, kejadian tersebut menjadi pembelajaran untuk memperkuat Standar Operasional Prosedur (SOP) dalam proses pengolahan dan pemeriksaan makanan.

“Intinya kami semua sudah melakukan evaluasi. Kejadian ini kami jadikan bahan perbaikan agar tidak terulang lagi. Dari pemeriksaan, itu bukan belatung atau ulat, melainkan bahan makanan yang bentuknya mirip,” kata Dinda.

Dinda juga menuturkan bahwa saat kejadian ia tidak berada di lokasi sehingga tidak dapat memastikan secara langsung. Namun setelah mendapat laporan lengkap dari sekolah dan tim, ia memastikan temuan dalam video tidak sesuai dengan fakta di lapangan.

Pihaknya juga berharap sekolah dapat segera memberikan informasi ke SPPG jika ada temuan atau keluhan terkait menu MBG. Dengan komunikasi cepat, penanganan akan lebih mudah dilakukan dan tidak memunculkan kesalahpahaman.

“Harapannya, jika ada kendala atau kekurangan pada makanan, sekolah dapat segera menginformasikan kepada kami. Dengan komunikasi langsung, kita bisa cepat menindaklanjuti,” tegasnya.

Kesimpulan dan Harapan

Dengan adanya klarifikasi ini, pihak sekolah dan penyedia berharap tidak ada lagi kesalahpahaman serupa. Mereka juga menegaskan komitmen untuk terus meningkatkan standar kualitas makanan demi kenyamanan dan keamanan siswa penerima manfaat MBG.


banner 336x280

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *