oleh

Mengapa Tiongkok Menghindar dalam Resolusi Gaza?

banner 468x60

China Menyatakan Keberatan terhadap Resolusi PBB tentang Gaza

China menyampaikan keberatan terhadap resolusi Dewan Keamanan PBB yang disusun Amerika Serikat terkait pembentukan Board of Peace (BoP) dan International Stabilization Force (ISF) di Jalur Gaza. Pemerintah China menilai naskah tersebut tidak secara jelas menegaskan prinsip utama yang menjadi dasar penyelesaian konflik.

Menurut China, Gaza harus diatur oleh rakyat Palestina dan proses menuju solusi dua negara. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Mao Ning, dalam konferensi pers reguler, sehari setelah resolusi disahkan dengan 13 suara setuju, menjelaskan alasan pihaknya dan Rusia memilih abstain. Mao Ning menegaskan bahwa absennya China mencerminkan perbedaan mendasar terhadap isi resolusi, bukan penolakan terhadap upaya perdamaian di Gaza.

banner 336x280

Mao Ning menambahkan bahwa rancangan AS terkait tata kelola Gaza pascaperang masih ambigu. Padahal, itu merupakan isu yang selama ini dianggap China sebagai kunci menuju penyelesaian konflik yang adil dan berkelanjutan. Dia menekankan bahwa prinsip “Palestina memerintah Palestina” tidak terwakili secara memadai di dalam resolusi tersebut.

China Tetap Mendukung DK PBB

Meski mengkritik resolusi, pemerintah China menekankan tetap mendukung Dewan Keamanan PBB dalam upaya menegakkan gencatan senjata dan meredakan krisis kemanusiaan. Mao mengatakan pihaknya akan terus mengambil langkah konstruktif dan bertanggung jawab. Dukungan China, dijelaskan Mao, berakar pada pembelaan atas hak-hak rakyat Palestina, termasuk perjuangan untuk menentukan nasib sendiri dan negara yang merdeka.

China juga menyuarakan bahwa rekonstruksi Gaza harus disertai mekanisme politik yang sah, inklusif, dan sejalan dengan kesepakatan internasional, bukan melalui struktur yang dianggap meminggirkan otoritas Palestina.

Resolusi AS dan Gencatan Senjata Gaza

Resolusi yang disahkan Senin lalu (17/11/2025), merupakan bagian dari kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Hamas berdasarkan rencana 20 poin pemerintahan Donald Trump. Tahap pertama mencakup pembebasan sandera Israel dengan imbalan pembebasan tahanan Palestina. Naskah resolusi mengatur pembentukan Board of Peace untuk mengawasi tata kelola serta ISF untuk menangani keamanan, demilitarisasi, dan stabilisasi Gaza hingga akhir 2027.

Salah satu poin yang paling disorot adalah rencana pembentukan mekanisme pemerintahan Gaza tanpa Hamas, serta proses rekonstruksi di bawah supervisi internasional. Konteks itu muncul di tengah situasi kemanusiaan paling buruk sejak 2023, ketika lebih dari 69 ribu warga Palestina, mayoritas perempuan dan anak-anak, tewas, dan lebih dari 170.700 terluka dalam perang yang menghancurkan hampir seluruh infrastruktur Gaza.

Peran China dalam Upaya Perdamaian

China menyampaikan komitmennya untuk terus mendukung penghentian kekerasan, percepatan bantuan kemanusiaan, serta jalan diplomatik menuju rekonstruksi Gaza, termasuk pemulihan penuh hak-hak rakyat Palestina. Dalam pernyataannya, Mao menegaskan bahwa China tidak menolak inisiatif perdamaian, namun keberatan atas isi resolusi yang dianggap tidak menjawab elemen paling penting, yakni siapa yang akan mengelola Gaza setelah perang.

“Ada ambiguitas dalam isu kunci pengaturan pascaperang Gaza dalam resolusi AS, dan prinsip penting Palestina harus memerintah Palestina serta solusi dua negara belum sepenuhnya ditunjukkan. Inilah alasannya China tidak memilih mendukungnya,” ujar Mao.

Posisi itu diperkuat oleh pernyataan Duta Besar China untuk PBB, Fu Cong, yang menyebut rancangan tersebut memiliki banyak isu krusial, termasuk lingkup tugas dan struktur ISF yang akan bertugas hingga 2027. China menegaskan bahwa kejelasan mandat adalah hal krusial, mengingat ISF akan memiliki kewenangan keamanan utama di wilayah konflik yang sangat sensitif.


banner 336x280

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *