oleh

RS Dian Harapan Bantah Tolak Pasien Rujukan, Ungkap Kronologi Lengkap

-Berita-31 Dilihat
banner 468x60

Penjelasan Rumah Sakit Dian Harapan Mengenai Rujukan Pasien Gawat Janin

Rumah Sakit Dian Harapan (RSDH) di Jayapura telah memberikan pernyataan resmi mengenai dugaan penolakan rujukan pasien gawat janin dari RSUD Yowari. Pihak rumah sakit menegaskan bahwa mereka tidak pernah menolak pasien, melainkan memberikan informasi yang jelas tentang kapasitas layanan mereka saat itu.

Alasan Kapasitas Layanan yang Tidak Tersedia

Menurut keterangan RSDH, layanan kritis seperti ruang NICU, ruang bersalin, dan kehadiran dokter spesialis tidak tersedia pada saat permintaan rujukan dilakukan. Hal ini disebabkan oleh penuhnya kapasitas ruang perawatan serta adanya cuti dokter spesialis Obgyn dan anastesi.

banner 336x280

Pihak rumah sakit menyampaikan bahwa sejak awal mereka sudah memberikan edukasi kepada petugas RSUD Yowari mengenai kondisi layanan, termasuk ketersediaan dokter dan ruang perawatan. Informasi ini diberikan sebelum pasien tiba.

Kronologi Permintaan Rujukan

Peristiwa dimulai pada Senin, 17 November 2025, pukul 00.08 WIT, ketika petugas Kamar Bersalin RSUD Yowari menghubungi RSDH untuk merujuk pasien. Dokter jaga RSDH kemudian meminta konfirmasi ketersediaan dokter spesialis anastesi, ruang perawatan, serta dokumen SOAP rujukan.

Pada 00.16 WIT, RSUD Yowari mengirimkan foto surat pengantar ambulans. Setelah pemeriksaan internal oleh bidan jaga RSDH, ditemukan bahwa ruang NICU terisi penuh oleh delapan bayi, ruang kebidanan juga penuh, dan dokter spesialis Obgyn sedang cuti. Dokter spesialis anastesi mitra yang dapat dipanggil membutuhkan waktu koordinasi tambahan jika harus melakukan operasi darurat.

Pada 00.43 WIT, dokter jaga RSDH mengirimkan pemberitahuan resmi ke RSUD Yowari bahwa kapasitas layanan kritis untuk tindakan operasi sesar darurat (SC CITO) tidak tersedia, dan menyarankan agar pasien langsung dirujuk ke rumah sakit lain. Namun, pada 00.59 WIT, RSUD Yowari mengabarkan bahwa pasien sudah dibawa menuju RSDH.

Ambulans Datang, Minta Cap dan Edukasi Keluarga

Sesampainya di IGD pukul 01.10 WIT, petugas RSUD Yowari meminta dokter jaga RSDH memberikan cap rumah sakit dan mengedukasi keluarga pasien. Dokter kemudian menjelaskan secara langsung bahwa dokter Obgyn dan anestesi tidak siaga dan ruang perawatan penuh.

Setelah penjelasan diterima, pihak keluarga memutuskan melanjutkan rujukan ke rumah sakit lain. Dokter jaga kemudian menuliskan keterangan dalam surat pengantar ambulans sebelum kembali menangani pasien darurat lain yang sudah tiba lebih dulu.

Situasi di IGD sempat semakin padat ketika seorang ibu melahirkan di dalam mobil, sehingga bidan RSDH meminta ambulans RSUD Yowari memajukan posisi mobil agar penanganan darurat bisa dilakukan. Ketika petugas RSDH hendak kembali ke ambulans RSUD Yowari, mobil tersebut sudah meninggalkan area rumah sakit.

Manajemen RSDH menegaskan bahwa seluruh prosedur telah dijalankan sesuai standar dan tidak ada unsur penolakan pasien.

Keluhan Keluarga: Rujukan Berulang yang Berujung Tragedi

Di sisi lain, keluarga pasien menyampaikan versi berbeda. Menurut penuturan keluarga, Irene mulai merasakan sakit hebat sekitar pukul 03.00 WIT di Kampung Kensio. Setelah dibawa ke RS Yowari, ia disebut dirujuk ke RS Abepura namun tak mendapat pelayanan.

Keluarga kemudian menuju RS Dian Harapan, tetapi mengaku kembali tidak dilayani. Upaya terakhir dilakukan ke RS Bhayangkara, namun kamar penuh. Ruang VIP tersedia dengan biaya masuk Rp4 juta, sementara operasi disebut membutuhkan dana Rp8 juta. Keluarga tak memiliki biaya tersebut.

Irene kemudian dirujuk ke RSUD Dok II, namun meninggal dalam perjalanan bersama bayi yang belum sempat diselamatkan.

Akademisi Uncen: “Ini Peristiwa Luar Biasa, Dua Nyawa Hilang”

Dosen Universitas Cenderawasih, Fredy Sokoy, yang mewakili keluarga korban, mengecam keras kejadian ini. “Ini sangat miris. Di tengah kota dengan fasilitas lengkap, rujukan berulang-ulang tapi semua buntu,” tegasnya melalui keterangan tertulis, Kamis (20/11/2025).

Menurutnya, semboyan “keselamatan di atas segalanya” seolah tidak berlaku dalam kasus ini. “Dua nyawa orang Papua sama berharganya dengan seratus nyawa. Beginikah nasib rakyatku, mati karena alasan sederhana seperti ini?” ujarnya.

Keluarga Desak Investigasi Menyeluruh

Keluarga korban meminta pemerintah daerah, DPR Papua, dan lembaga terkait untuk melakukan investigasi menyeluruh terhadap dugaan penolakan layanan ini. Mereka menilai sistem rujukan kesehatan darurat di Jayapura mengalami kegagalan sistemik dan membahayakan masyarakat kecil.

“Jika ini terjadi di pedalaman mungkin kami bisa maklumi. Tapi ini terjadi di tengah kota,” kata keluarga.

Kasus ini kini menjadi sorotan publik dan diharapkan menjadi titik evaluasi serius dalam pembenahan layanan kesehatan di Papua — terutama terkait respon cepat terhadap pasien darurat bersalin.


banner 336x280

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *