oleh

Aktivis Bangkalan Minta Tambang Ilegal Ditutup, Bukan Hanya di Lokasi Kematian Santri

-Berita-32 Dilihat
banner 468x60



BANGKALAN,

Aktivitas penambangan batu kapur atau galian C ilegal di Desa Parseh, Kecamatan Socah, Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur, diduga menyebabkan kerusakan lingkungan yang serius.

Beberapa aktivis lingkungan menyerukan tindakan tegas untuk menghentikan seluruh kegiatan penambangan ilegal tersebut. Salah satu aktivis, Mathur Husyairi, menilai bahwa penutupan tambang galian C tidak boleh hanya terbatas pada lokasi tempat enam santri Pondok Pesantren Jabal Qur’an tewas tenggelam. Menurutnya, kawasan sekitar masih dipenuhi tambang ilegal lain yang beroperasi secara sembunyi-sembunyi.

banner 336x280

“Saya mendapatkan informasi bahwa Polres Bangkalan akan menutup sementara lokasi tersebut. Namun, menurut saya itu tidak cukup,” ujarnya, Minggu (23/11/2025).

“Harus dihentikan semua aktivitas penambangan ilegal yang terjadi di lokasi itu,” tambahnya.

Banyak Titik Tambang Ilegal dan Rusak Lingkungan

Menurut Mathur, tambang galian C ilegal di kawasan tersebut bukan hanya terjadi di satu titik, melainkan tersebar di beberapa lokasi. Bekas galian ini dibiarkan tanpa pemulihan, sehingga menjadi kubangan besar yang merusak lingkungan.

“Ditambah lagi, saat ini musim hujan dan kubangan bekas galian itu terisi air dan menjadi daya tarik masyarakat sekitar untuk bermain di tempat berbahaya itu,” jelasnya.

Ia berharap pemerintah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap seluruh tambang di Bangkalan. Selain membahayakan keselamatan, tambang ilegal juga tidak menyumbang pendapatan asli daerah (PAD).

“Selama ini tidak ada PAD yang masuk karena ini ilegal. Kalau pemerintah mau tegas, fasilitasi mereka agar memiliki izin dan pemerintah bisa mendapatkan PAD dari sana,” ucap mantan anggota DPRD Jatim itu.

Polres Selidiki Legalitas Tambang

Sementara itu, Kapolres Bangkalan, AKBP Hendro Sukmono, mengatakan pihaknya masih menyelidiki status legal tambang galian C di lokasi tersebut.

“Kami masih belum tahu, kegiatan di sini legal atau tidak, masih kami dalami,” ujarnya.

Untuk mencegah kejadian serupa, polisi menutup akses ke danau buatan tersebut agar tidak dimasuki siapa pun.

“Kami tutup untuk lokasi TKP ini, kalau hal lain di luar itu kami dalami,” pungkasnya.

Kronologi Enam Santri Tewas Tenggelam

Sebelumnya, enam santri pergi ke danau buatan bekas tambang tanpa sepengetahuan ustaz. Salah satu santri diduga tenggelam dan lima lainnya berusaha menolong, tetapi kedalaman danau membuat mereka ikut terseret.

Kejadian itu baru diketahui oleh santri lain yang kemudian memberi tahu pengurus pesantren. Proses evakuasi berlangsung lama karena korban harus diangkat satu per satu dari dasar danau.

Salah satu pengurus pondok bahkan dilarikan ke RS Syamrabu Bangkalan.

Adapun identitas para korban adalah Louvin (9), Rosyid Ainul Yakin (10), Reynand Azka (9), dan Salman (9) dari Surabaya; serta Moh Nasirudin Adrai (8) dari Sampang dan Muhammad Akhtar Muzain Ainul Izzi (7) dari Bangkalan.

banner 336x280

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *