oleh

Duduk Tenang, Fokus Lebih Baik: Gaya Baru Gen Z

banner 468x60

Gen Z dan Tren “Rawdogging” untuk Meningkatkan Fokus



Generasi Z tumbuh dalam era hiper-digital, di mana kehidupan sehari-hari selalu terhubung melalui perangkat digital. Ponsel menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan mereka, sering kali seperti perpanjangan tangan. Namun, kini banyak dari mereka mulai merasa lelah dengan kebiasaan terus-menerus mengakses layar dan menyadari bahwa kemampuan fokus mereka semakin berkurang.

Sebagai respons terhadap masalah ini, muncul sebuah cara baru untuk meningkatkan fokus: belajar duduk dalam kebosanan. Dalam istilah populer yang sedang viral di TikTok, tren ini disebut “rawdogging”, yaitu melakukan aktivitas tanpa adanya distraksi apapun.

banner 336x280

Di platform TikTok, ribuan video dari remaja hingga usia 20-an berbagi pengalaman mereka dalam “maraton rawdogging”. Mereka duduk tanpa ponsel atau hiburan, hanya bersama pikiran sendiri—meskipun beberapa tetap merekam prosesnya menggunakan gawai.

Beberapa dari mereka berjalan tanpa tujuan, tanpa musik atau podcast, sementara ponsel hanya digunakan sebagai alat darurat. Ada juga yang diam di tempat selama hampir satu jam dengan mata tertutup, mencoba mencapai ketenangan pikiran seperti seorang biksu.

Bagi sebagian Gen Z, ketika fokus semakin langka dan sulit dipertahankan, mereka mulai bersedia mencoba apa pun, termasuk tidak melakukan apa pun. Seperti kata kreator TikTok Ishaan Sharma (@sexyishaan), tren ini muncul dari keinginan untuk merebut kembali perhatian diri sendiri, bukan menyerahkannya pada layar.

“Dulu, saya bisa membaca seluruh buku dalam sekali duduk. Sekarang, saya hampir tidak bisa membaca 20 halaman tanpa ingin meraih ponsel atau perangkat lain,” ujarnya kepada HuffPost.

Sharma mengatakan ia selalu mengerjakan dua hal sekaligus: jika sedang menggunakan laptop, ia juga menonton film. Jika sedang mandi, ia mendengarkan musik. Rasanya otaknya selalu bekerja 1,75 kali lebih cepat. Ia menyalahkan rentang perhatiannya yang semakin pendek hampai sepenuhnya pada pengaruh media sosial.

“Algoritma ini dirancang agar rentang perhatian lebih pendek dan reseptor dopamin menjadi terlalu berat, dan seiring waktu, hal itu menyebabkan kerusakan yang luar biasa pada otak kita,” ujarnya.

Bagi Sharma, rawdogging berarti fokus pada satu aktivitas saja: kalau sedang menonton TV, dia benar-benar menonton, bukan menggeser linimasa TikTok di ponselnya.

“Sebenarnya relatif sulit dilakukan,” aku Sharma. “Saya selalu ingin memeriksa kantong untuk mencari ponsel. Saya benar-benar harus meletakkan ponsel di ruangan lain dan terkadang bahkan mematikannya agar tidak memikirkannya.”

Nama Lain dari Mindfulness

Jika kita amati, sebenarnya tren ini tak berbeda dengan meditasi, namun dilabel ulang oleh Gen Z. Hal itu diamini oleh Maggie Sibley, profesor psikiatri dan ilmu perilaku di Fakultas Kedokteran Universitas Washington.

“Mengalami kebosanan dengan penuh kesadaran dan pertimbangan adalah teknik mindfulness yang telah lama digunakan untuk meningkatkan atensi,” ujarnya kepada HuffPost.

“Dan semakin banyak literatur yang membahas efektivitas teknik mindfulness, termasuk meditasi bergerak seperti yang dideskripsikan oleh Gen Z di TikTok, untuk membantu penderita ADHD meningkatkan kapasitas atensi mereka.”

Manfaat Berada di Alam Bebas

Marc Berman, seorang ahli saraf, mengatakan bahwa berada di alam bebas sangat efektif jika kita ingin meningkatkan rentang perhatian.

“Dalam penelitian saya, kami menemukan bahwa berjalan-jalan singkat di alam dapat meningkatkan atensi dan daya ingat hingga 20 persen,” ujar penulis buku “Nature and the Mind: The Science of How Nature Improves Cognitive, Physical and Social Well-Being”.

Berman mengatakan ini bukan tentang menyukai hiking di hutan atau berjalan-jalan di sekitar kompleks; ini tentang bagaimana otak kita memproses stimulasi alami, seperti fraktal (pola tak berujung yang dapat dilihat di alam, misalnya kepingan salju atau cabang pohon), tepi lengkung, dan pola lain di luar ruangan.

“Berada di alam membantu memulihkan kemampuan kita untuk mengarahkan perhatian penuh, dengan mendapatkan stimulasi lembut yang memikat dan menangkap perhatian tak sadar, yang membuatnya tidak mudah lelah,” ujarnya kepada HuffPost.

Tinggalkan Earphone di Rumah

“Saya pikir penting untuk berjalan-jalan di alam tanpa headphone agar semua indra dan perhatian dapat teralihkan oleh stimulasi alam yang lembut dan memesona,” ujarnya.

“Ada beberapa bukti yang mendukung hal ini, dan mungkin lebih baik pergi sendiri agar Anda juga bisa menyendiri dengan pikiran.”

Belajar duduk diam dan mengalami kebosanan, lalu menanggapinya dengan bijaksana sering kali memicu ledakan kreativitas yang luar biasa, kata Heather Lench, seorang profesor ilmu psikologi dan otak di Texas A&M University.

“Kebosanan terasa negatif untuk dialami, sehingga orang sering mencari cara untuk menghindarinya atau menghilangkannya, tetapi kebosanan justru menciptakan dorongan untuk mencari pengalaman dan peluang baru,” ujarnya.

Ia menekankan, jika kita langsung membuka media sosial atau menonton serial secara maraton setiap kali merasa sedikit bosan, kita akan kehilangan motivasi yang ditimbulkannya untuk mencoba sesuatu yang baru dan berbeda.

banner 336x280

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *