JAKARTA — Benua Biru sedang menghadapi tantangan ekonomi yang cukup berat. Perlambatan ekonomi yang terjadi di banyak negara juga memengaruhi Eropa, dengan banyak perusahaan melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) akibat situasi ekonomi yang tidak menentu.
Komisi Eropa memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Uni Eropa hanya sebesar 1,4% pada tahun ini. Angka ini sama untuk proyeksi pertumbuhan ekonomi Uni Eropa pada tahun 2026. Sementara itu, pertumbuhan ekonomi zona Euro diperkirakan sebesar 1,3% pada tahun ini dan akan melambat menjadi 1,2% pada 2026.
Proyeksi pertumbuhan ekonomi Uni Eropa turun dari perkiraan yang diterbitkan pada Mei 2025. Salah satu faktor penyebabnya adalah hambatan perdagangan yang mencapai titik tertinggi sepanjang sejarah. Selain itu, Uni Eropa juga menghadapi tarif rata-rata yang lebih tinggi untuk ekspor ke Amerika Serikat dibandingkan perkiraan awal.
Ketidakpastian kebijakan perdagangan yang berlanjut terus membebani aktivitas ekonomi. Tarif dan pembatasan nontarif berpotensi menghambat pertumbuhan UE lebih dari yang diperkirakan.
Beberapa perusahaan besar di Eropa telah melakukan PHK massal dan penghentian perekrutan pegawai baru karena kondisi ekonomi yang semakin memburuk. Berikut beberapa perusahaan Eropa yang melakukan PHK:
Perusahaan Otomotif
- Renault (Prancis): Berencana memangkas biaya dengan laporan bahwa sekitar 3.000 pekerjaan di bidang pelayanan pendukung akan dipangkas hingga akhir 2025.
- Volkswagen (Jerman): Telah memangkas sekitar 7.000 karyawan di Jerman untuk penghematan biaya pada bulan April.
- Daimler Truck (Jerman): Akan memangkas hingga 7.000 pekerjaan di Jerman, Amerika Serikat, dan Meksiko.
- Ban Continental (Jerman): Memangkas 1.500 pekerjaan tambahan dan juga 10.000 pekerjaan.
- Volvo Cars (Swedia): Akan memangkas 3.000 pekerja kantoran sebagai bagian dari restrukturisasi perusahaan.
Bank
- Commerzbank (Jerman): Menyetujui syarat-syarat untuk memangkas sekitar 3.900 pekerjaan hingga 2028.
- Lloyds (Britania Raya): Mempertimbangkan melakukan PHK sekitar setengah dari 3.000 stafnya.
- ABN AMRO (Belanda): Berencana memangkas 5.200 pekerjaan hingga 2028.
Energi
- OMV (Austria): Perusahaan minyak dan gas ini berencana memangkas 2.000 pekerjaan (seperdua belas dari tenaga kerjanya di seluruh dunia).
Industri dan Teknik
- SIKA (Swiss): Perusahaan kimia industri dan konstruksi ini akan memangkas hingga 1.500 pekerjaan di pasar yang dianggap terus melemah, seperti China.
- STMicroelectronics (Prancis dan Italia): Memperkirakan 5.000 pekerja akan meninggalkan perusahaan dalam tiga tahun ke depan, termasuk pemangkasan 2.800 pekerjaan pada 2025.
Barang-Barang Konsumsi
- Nestlé (Swiss): Akan memangkas 6.000 pekerjaan atau 5,8% dari semua karyawannya.
- Burberry (Britania Raya): Rumah mode ini akan memangkas 1.700 karyawan atau sekitar seperlima tenaga kerja globalnya.
- LVMH (Prancis): Unit minuman keras Moet Hennessy akan memangkas sekitar 1.200 pekerjanya.
Lain-Lain
- Lufthansa (Jerman): Grup penerbangan ini akan memangkas 4.000 pekerjaan administratif hingga 2030.
- Telefonica (Spanyol): Perusahaan telekomunikasi ini akan memangkas 5.040 (20%) karyawannya di Spanyol.
- Novo Nordisk (Denmark): Perusahaan farmasi ini akan memangkas 9.000 pekerjaan di seluruh dunia.
- Just Eat Takeaway (Belanda): Unit Jerman dari perusahaan ini berencana memangkas 2.000 karyawannya mulai dari akhir 2025.
- Orsted (Denmark): Perusahaan energi ini akan memangkas sekitar 2.000 pekerjaan atau seperempat tenaga kerjanya hingga akhir 2027.
Daftar perusahaan-perusahaan Eropa ini menunjukkan dampak signifikan dari perlambatan ekonomi yang terjadi. Mulai dari perusahaan energi hingga perusahaan mode, banyak perusahaan melakukan pemangkasan karyawan dan menghentikan perekrutan hingga akhir 2025.













Komentar