Kondisi Darurat Bencana di Aceh
Bupati Aceh Tengah, Aceh Selatan, dan Pidie Jaya mengungkapkan bahwa mereka tidak lagi mampu menangani dampak banjir dan longsor yang melanda wilayah mereka. Hal ini disebabkan oleh keterbatasan alat berat serta minimnya anggaran yang tersedia. Banyak desa belum bisa diakses, sementara stok bahan pokok seperti mi instan, minyak goreng, sarden, air bersih, hingga BBM sudah habis.
Presiden Prabowo Subianto telah meninjau langsung lokasi bencana dan menjanjikan alokasi anggaran untuk bantuan. Sementara itu, BNPB menegaskan bahwa mereka telah memberikan dukungan maksimal dalam penanganan bencana tersebut.
Keluhan Bupati Aceh Timur
Bupati Aceh Timur, Iskandar Usman Al Farlaky, menyampaikan bahwa ada tiga kepala daerah di Aceh yang menyatakan tidak lagi mampu menangani dampak bencana. Ketiga bupati tersebut adalah Bupati Aceh Tengah Haili Yoga, Bupati Aceh Selatan Mirwan MS, dan Bupati Pidie Jaya Sibral Malasyi.
Iskandar menjelaskan bahwa pemerintah daerah menghadapi kendala besar, terutama minimnya alat berat dan keterbatasan anggaran. Bahkan alat berat milik daerah dalam kondisi rusak parah sehingga tidak bisa difungsikan. Ia juga menyebutkan bahwa anggaran BTT (Belanja Tak Terduga) hanya sebesar 2 miliar, namun saat ini hanya tersisa Rp800 juta.
Ia menegaskan bahwa tanpa bantuan dari pemerintah pusat, pihaknya tidak akan mampu menangani situasi ini. “Kalau pemerintah pusat membiarkan kami berjuang sendiri di daerah, terus terang dua atau 3 hari lagi saya juga akan angkat bendera putih menyerah dengan kondisi ini,” ujarnya.
Keterbatasan Logistik dan Akses
Iskandar juga menyebutkan bahwa hingga kini masih ada desa yang belum bisa ditembus untuk diberi bantuan. Ia mengatakan bahwa stok beras ada, tetapi mi instan, minyak goreng, dan sarden sudah habis. Selain itu, air mineral dan BBM juga sulit didapat. Pengungsi bahkan harus mengandalkan kayu untuk memasak, padahal kayu yang tersedia basah dan sulit ditemukan.
Penanganan oleh BNPB
Menanggapi keluhan tersebut, Kepala pusat data informasi komunikasi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Abdul Mahari, menyatakan bahwa pihaknya telah berusaha semaksimal mungkin membantu pemerintah daerah dalam tanggap darurat bencana ini. Ia menekankan bahwa tidak ada niat untuk membenturkan institusi satu sama lain.
Abdul juga menyebutkan bahwa pemerintah turut hadir langsung untuk membantu penanggulangan bencana. Presiden Prabowo Subianto terjun langsung ke lokasi untuk melihat kondisi bencana di Aceh. Dalam kunjungan tersebut, Prabowo menyampaikan bahwa pemerintah pusat akan menghemat anggaran untuk memberikan bantuan kepada warga desa dan kecamatan yang terdampak bencana.
Selain itu, pemerintah juga akan mengalokasikan anggaran untuk memperbaiki jalur yang putus dan jembatan-jembatan yang rusak.
Data Korban dan Kerusakan
Hingga kini, korban bencana banjir dan longsor di Provinsi Aceh masih terus bertambah. Berdasarkan data sementara terakhir, korban meninggal dunia mencapai 156 orang dan terluka mencapai 1.838 jiwa. Bencana ini melanda 18 kabupaten/kota di Aceh beberapa waktu lalu dan menyebabkan 955.322 jiwa atau 214.940 kepala keluarga (KK) terdampak.
Jubir Posko Komando Kantor Gubernur Aceh, Murthalamuddin, menyebutkan bahwa jumlah pengungsi hingga Senin mencapai 478.847 jiwa yang tersebar di 828 titik pengungsian di seluruh wilayah terdampak.
Selain korban jiwa, musibah itu juga menyebabkan kerusakan fasilitas umum, antara lain 138 unit perkantoran, 50 unit tempat ibadah, 161 unit sekolah, dan 4 unit pondok pesantren. Untuk infrastruktur, terdapat 295 titik jalan dan 146 unit jembatan yang rusak. Kerugian harta benda masyarakat mencakup 71.385 unit rumah, 182 ekor ternak, hingga lahan pertanian seperti 139.444 hektare sawah, dan 12.012 hektare kebun.
Bantuan Logistik dari Basarnas
Kapal Negara (KN) SAR Purworejo yang berasal dari pangkalan Batam di bawah Kantor Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Tanjungpinang resmi di-BKO-kan atau dikirim ke Aceh, untuk mendrop personel sekaligus membawa logistik guna membantu penanganan bencana banjir yang melanda sejumlah kabupaten di Aceh.
Kasi Sumber Daya Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Banda Aceh, Eko Suprianto, mengatakan bahwa kapal sedang melakukan pengisian bahan bakar dan air di Pelabuhan Ulee Lheue. Logistik yang dibawa berupa beras, mie instan, 3 ambulans beserta medis, satu mobil tangki air, dan perlengkapan lainnya yang akan diturunkan di Lhokseumawe.
Bantuan yang dibawa KN SAR Purworejo merupakan hasil koordinasi lintas instansi, termasuk dukungan dari masyarakat. Eko mengatakan bahwa keputusan tersebut diambil agar distribusi bantuan berjalan maksimal dan tidak terkendala kapasitas kapal.












Komentar