oleh

Bandung Tangani Sampah, Kewilayahan dan Dunia Usaha Jadi Kunci Sukses

-Berita-26 Dilihat
banner 468x60

Strategi Kota Bandung dalam Mengelola Sampah

Pemerangkapan sampah di Kota Bandung kini mengalami perubahan signifikan. Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung berupaya membereskan masalah penanganan sampah, meskipun terdapat keterbatasan kuota pengiriman ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sarimukti. Berdasarkan data yang diperoleh dari Humas Kota Bandung, timbulan sampah harian mencapai 1.492 ton per hari. Sementara kapasitas TPA Sarimukti hanya mampu menampung 938 ton per hari. Hal ini menyebabkan adanya gap sebesar 554 ton per hari yang tidak dapat sepenuhnya dikirim ke fasilitas akhir dan harus dikelola di dalam kota.

Di sisi lain, hingga akhir kuartal 2025, Pemkot Bandung bersama mitra sektor swasta telah mengoperasikan infrastruktur pengolahan kota dengan prinsip 3R (Reduce – Reuse – Recycle). Capaian pengolahan sampah mencapai 207,58 ton per hari. Meskipun sebagian sampah sudah bisa diolah di dalam kota, volumenya masih belum cukup untuk menyelesaikan seluruh sisa sampah yang tidak bisa dikirim ke TPA. Oleh karena itu, pemerintah kota memperluas wilayah penyelesaian sampah hingga tingkat RW, kawasan komersial, dan rumah tangga.

banner 336x280

Pengaktifan RW sebagai Simpul Pengolahan Organik

Untuk menekan gap tersebut, sebanyak 1.597 RW kini diaktifkan sebagai simpul pengolahan organik. Setiap RW didukung oleh satu petugas pemilah dan pengolah dengan kapasitas olah 100 kg per RW setiap harinya. Skema ini membuka potensi pengolahan mandiri hingga 159,7 ton per hari. Dengan demikian, RW bukan lagi unit administratif, melainkan garda terdepan pengurangan sampah dari sumbernya.

Petugas RW fokus pada pemilahan dan pengolahan sampah organik agar tidak tertahan lama di Tempat Penampungan Sampah (TPS), sehingga memotong potensi bau dan menghasilkan kompos yang dapat dimanfaatkan oleh warga di program Buruan SAE (Sehat, Alami, Ekonomis).

Selanjutnya, Pemkot juga mendorong pengolahan sampah sebesar 86,72 ton per hari langsung di kawasan usaha seperti hotel, perkantoran, restoran, ritel, serta rumah tangga melalui pengelolaan internal. Dengan begitu, rantai olah kota dibangun melalui empat komponen kunci: infrastruktur kota, RW, kawasan usaha, dan rumah tangga. Hal ini menjadikan sistem kebersihan berlapis yang tidak lagi bertumpu pada satu poros penyelesaian.

Penguatan Insinerator sebagai Komponen Hilir

Pada pos pengolahan residu besar yang tidak dapat ditangani oleh 3R hulu, kinerja insinerator diperkuat sebagai komponen hilir pengurangan volume besar. Namun, pemerintah kota tetap menjaga taat baku mutu emisi dan disiplin operasi. Pemkot Bandung memastikan bahwa penguatan insinerator dilakukan dengan orientasi tata kelola operasi, bukan substitusi dari edukasi 3R di sumber.

Transformasi tersebut diperkuat melalui orkestrasi tiga program sirkuler kota yang berjalan berkesinambungan:

  1. Kang Pisman (Kurangi, Pisahkan, Manfaatkan) berfokus pada pengurangan dan pemilahan di sumber, serta pemanfaatan sampah organik menjadi kompos dan eco-enzyme.
  2. Buruan SAE merupakan ruang pemberdayaan kebun kolektif dan keluarga berbasis pemakaian kompos dari hulu.
  3. Dapur Dahsat merupakan program penguatan gizi keluarga dan pencegahan stunting dengan memanfaatkan hasil panen kebun warga dan pangan lokal.

Ketiganya membentuk mata rantai sirkular baru. Sampah organik yang dipilah warga kini diolah di RW menjadi kompos serta eco-enzyme. Hasil olahan ini kemudian kembali masuk ke kebun keluarga atau komunitas sebagai pupuk alami untuk menyuburkan tanaman pangan. Dari kebun-kebun tersebut, warga memanen pangan sehat yang bisa langsung dikonsumsi di rumah, dibagikan di lingkungan, atau dimanfaatkan sebagai bahan pada program gizi keluarga.

Perubahan Ritme Layanan Kebersihan

Agar mata rantai sirkular ini berjalan optimal, ritme layanan kebersihan kota pun disesuaikan lebih awal. Jam operasional penyapuan dimajukan ke pukul 04.00 WIB, memastikan jalan dan gang bersih sebelum aktivitas warga dimulai. Perubahan waktu ini bukan sekadar penyesuaian jam kerja, tetapi didesain untuk menekan dampak layanan yang sebelumnya beririsan dengan jam keberangkatan sekolah dan jam produktif warga.

Dengan ruang publik yang sudah bersih sejak pagi, mobilitas warga menjadi lebih nyaman. Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan menyebut, keberlanjutan sistem kebersihan tidak hanya diukur dari tonase, tetapi dari pengalaman langsung yang dirasakan warga. Mulai dari kebersihan jalan dan gang sejak pagi, berkurangnya bau di TPS, ritme pengangkutan dan pengolahan yang lebih baik, hingga manfaat yang kembali lagi ke keluarga melalui pangan sehat dan peningkatan kualitas kesehatan.

Farhan menegaskan, penanganan masalah sampah di Kota Bandung bukan sekadar target tonase, melainkan soal kualitas hidup keluarga Bandung. Dengan komitmen pemerintah yang kuat dan kolaborasi warga yang konsisten, insyaallah Bandung akan semakin bersih, sehat, dan lebih kuat.

Komitmen Pemkot Bandung dalam Menjaga Kelestarian Sungai

Selain itu, Pemkot Bandung melalui Dinas Lingkungan Hidup menegaskan komitmennya menjaga kelestarian sungai dengan memastikan bahwa pengelolaan sampah tidak dilakukan melalui pembuangan ke sungai dalam bentuk apa pun. Semua hal yang dilakukan Pemkot Bandung berkaitan dengan pengelolaan dan penanganan sampah melibatkan aparat kewilayahan. Camat dan lurah merupakan wali kota di wilayahnya yang memiliki kewenangan dan tanggung jawab dalam pengolahan sesuai aturan yang telah ditentukan.

banner 336x280

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *