Top 3 Dunia
Pembukaan top 3 dunia kemarin dimulai dari Rusia yang mengirim ratusan drone ke Ukraina. Serangan tersebut dilakukan menjelang pembicaraan damai antara kedua negara. Berita lain yang menjadi top 3 dunia adalah Israel yang membunuh ratusan buaya hingga Qatar mengingatkan gencatan senjata di Gaza bisa gagal. Berikut penjelasannya:
1. Rusia Kirim 653 Drone ke Ukraina Menjelang Pembicaraan Damai
Rusia melakukan serangan rudal dan drone dalam skala besar terhadap Ukraina pada Sabtu dini hari, 6 Desember, beberapa jam sebelum pejabat Ukraina dan Amerika Serikat memulai hari ketiga pembicaraan damai. Serangan tersebut, menurut laporan CBS News, mencakup 653 drone dan 51 rudal yang memicu sirene udara di hampir seluruh wilayah Ukraina.
Angkatan Udara Ukraina menyatakan bahwa mereka berhasil menjatuhkan 585 drone dan 30 rudal, namun 29 lokasi tetap terkena hantaman. Sedikitnya delapan orang terluka, termasuk tiga di wilayah Kyiv, menurut Menteri Dalam Negeri Ukraina Ihor Klymenko. Aktivitas drone juga dilaporkan hingga wilayah Lviv di Ukraina barat.
Operator energi nasional Ukraina, Ukrenergo, menulis di Telegram bahwa Rusia melakukan serangan besar dengan rudal dan drone terhadap pembangkit listrik serta infrastruktur energi di beberapa wilayah. Badan Energi Atom Internasional (IAEA) menyatakan bahwa Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Zaporizhzhia sempat kehilangan seluruh pasokan listrik dari luar pada malam serangan. Meskipun tidak beroperasi, fasilitas itu tetap membutuhkan daya stabil untuk mendinginkan enam reaktor yang dimatikan serta bahan bakar bekas, untuk menghindari risiko kecelakaan nuklir.
2. Israel Bunuh Ratusan Buaya, Takut Dijadikan Alat Teror di Tepi Barat
Israel membunuh ratusan buaya di sebuah peternakan di Lembah Jordan. Pembunuhan buaya-buaya itu dilakukan untuk mencegah mereka digunakan dalam serangan sabotase potensial di Tepi Barat, menurut sebuah laporan. Media Israel Ynet News yang dikutip dari Al Arabiya melaporkan bahwa teroris kemungkinan akan melepaskan buaya-buaya itu dengan menerobos perimeter peternakan buaya Petza’el yang kurang dijaga.
Buaya-buaya akan dilepaskan ke perumahan di sekitar peternakan, menurut Ynet News mengutip Administrasi Sipil dan Otoritas Alam dan Taman Israel. Para pejabat mengatakan bahwa iklim keamanan yang lebih luas menimbulkan kekhawatiran reptil-reptil tersebut mungkin sengaja dilepaskan sebagai bagian dari sebuah serangan. Badan-badan tersebut menyatakan tidak akan menyelidiki pemusnahan buaya pada Agustus lalu. Alasannya pemusnahan tersebut dilakukan secara sah dan berdasarkan izin berburu yang legal.
Mereka menambahkan bahwa memburuknya kondisi di peternakan juga menimbulkan risiko langsung terhadap keselamatan publik, mengingat adanya upaya pelarian yang berulang dalam beberapa tahun terakhir dan meningkatnya insiden orang memasuki properti secara ilegal.
3. Qatar Peringatkan Gencatan Senjata Gaza Terancam Gagal
Perdana Menteri Qatar Sheikh Mohammed bin Abdulrahman bin Jassim Al Thani menyatakan bahwa proses menuju perdamaian Gaza secara permanen terancam gagal tanpa langkah cepat dari pihak-pihak terkait. Berbicara dalam Doha Forum pada Sabtu, 6 Desember, ia menegaskan bahwa situasi saat ini bukanlah gencatan senjata penuh.
“Kita berada pada momen kritis. Ini belum sampai tujuan. Jadi yang kita miliki sekarang hanyalah jeda,” ujar Al Thani, menurut laporan Al Jazeera. Ia menambahkan bahwa penghentian kekerasan tidak bisa disebut gencatan senjata tanpa penarikan penuh pasukan Israel, pemulihan stabilitas, serta kebebasan bergerak bagi warga Palestina.
“Gencatan senjata tidak bisa diselesaikan tanpa penarikan penuh pasukan Israel, hingga stabilitas kembali ke Gaza dan orang dapat keluar-masuk, yang belum terjadi hari ini,” kata dia. Al Thani menyebut negosiasi konsolidasi gencatan senjata yang didukung Amerika Serikat berada pada titik “kritis”. Qatar, sebagai mediator utama, sedang berupaya mendorong fase lanjutan dari rencana perdamaian yang disusun Presiden AS Donald Trump untuk mengakhiri dua tahun perang di Gaza. Rencana itu mencakup pembentukan pemerintahan sementara di Gaza, diawasi sebuah dewan perdamaian (BoP) internasional dan didukung pasukan keamanan gabungan (ISF).












Komentar