oleh

Alasan Dedi Mulyadi Renovasi Sekitar Gedung Sate: Lingkungan Harus Selaras dengan Ikoniknya

-Berita-27 Dilihat
banner 468x60

Penataan Kawasan Gedung Sate: Tujuan dan Filosofi di Balik Perubahan

Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, menjelaskan alasan pemerintah provinsi melakukan penataan ulang kawasan sekitar Gedung Sate, Bandung. Dalam wawancara via telepon pada Jumat (21/11/2025), ia menegaskan bahwa renovasi tersebut hanya menyasar area luar gedung, bukan bangunan utamanya yang memiliki nilai sejarah bagi Jawa Barat.

“Penataan hanya bagian luar Gedung Sate, karena itu bukan bangunan heritage. Itu sudah beberapa kali renovasi,” ujarnya. Menurutnya, penataan ini bertujuan menjadikan kawasan lebih ramah lingkungan dan sarat nilai filosofis yang mencerminkan Jawa Barat.

banner 336x280

Bangunan Miliki Makna

Beberapa elemen yang diubah antara lain penggunaan paving block untuk meningkatkan daya serap air dan perancangan pagar bermakna simbolik. “Jalan aspal diubah menjadi paving block agar ada daya serap air. Lalu pagar dibangun dengan memiliki makna simbolik. Ya, bangunan itu harus punya makna, punya filosofi,” kata Dedi. Ia menyebut arsitek Sigit sebagai perancang yang dikenal sangat filosofis.

Penataan ini juga tidak mengganggu prioritas pembangunan lain di Jawa Barat. Dedi menegaskan, anggarannya relatif kecil dibanding pembangunan infrastruktur lainnya. “Anggaran penataan Gedung Sate tidak seberapa dengan dana pembangunan jalan, listrik, dan penataan saluran sungai,” ujarnya.

Habiskan Rp 3,9 Miliar

Total anggaran penataan kawasan sekitar Gedung Sate seluas 4 hektare tersebut mencapai Rp 3,9 miliar, mencakup seluruh proses mulai dari perencanaan (DED), pembangunan gapura, hingga pelaksanaan konstruksi. Kawasan yang ditata meliputi area Gedung Sate dan bangunan pendukung seperti kantor Inspektorat serta instansi lainnya.

Dedi juga menjelaskan, penataan dilakukan pada kawasan yang secara keseluruhan memiliki luasan lahan besar. Tanah Gedung Sate sendiri memiliki luas 29.700 meter persegi, sedangkan lahan Gedung Setda A—termasuk gedung baru dan masjid—mencapai 23.150 meter persegi. Jika digabung, total lahan area Gedung Sate dan Gedung Setda A menjadi 52.850 meter persegi.

Konsistensi Desain dalam Kawasan

Menurut Dedi, renovasi ini dilakukan karena selama ini Gedung Sate tidak terlihat selaras dengan bangunan-bangunan di sekitarnya. “Saya melihat Gedung Sate sangat estetik, tapi lingkungan sekitarnya nggak match. Bangunan sekitar Gedung Sate itu tidak chemistry dengan Gedung Sate, jadi seolah-olah gedung itu berdiri sendiri,” jelasnya.

Karena itu, Dedi menggagas agar seluruh bangunan di kawasan tersebut memiliki keselarasan desain. Langkah ini dianggap penting untuk memperbarui simbol keberhasilan pembangunan. “Gedung Sate itu simbol representasi keberhasilan pembangunan era zaman itu. Lalu kita renovasi kembali untuk menyesuaikan representasi keberhasilan pembangunan era zaman sekarang,” ujarnya.

Filosofi dalam Desain Gapura

Selain itu, desain arsitektur gapura baru mengadopsi filosofi nilai-nilai dari seluruh daerah di Jawa Barat, sebagai bentuk harmonisasi budaya dalam kawasan pemerintahan provinsi. Penataan ini diharapkan mampu menciptakan kawasan yang tidak hanya indah, tetapi juga memiliki makna dan nilai yang kuat.

banner 336x280

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *