oleh

Angka Pengangguran Batam Tertinggi di Kepri, Pemko Fokus ‘Link and Match’ Vokasi

-Pemko Batam-41 Dilihat
banner 468x60

Sorot1.id — Kepala BP Batam sekaligus Wali Kota Batam, Amsakar Achmad, mengakui bahwa persoalan pengangguran masih menjadi tantangan serius bagi kota industri tersebut. Meskipun trennya menunjukkan penurunan, angka pengangguran di Batam masih menjadi yang tertinggi di Provinsi Kepulauan Riau (Kepri), bahkan saat Kepri menempati posisi kedua tertinggi secara nasional.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Februari 2025, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Kepri berada di angka 6,89 persen. Di Batam sendiri, TPT tahun 2024 tercatat sebesar 7,68 persen. Ini berarti, sekitar tujuh hingga delapan orang dari setiap 100 angkatan kerja di Batam masih belum memiliki pekerjaan.

banner 336x280

Amsakar menjelaskan, tingginya angka tersebut dipengaruhi oleh dua faktor utama: karakter investasi di Batam dan daya tarik kota yang menarik banyak pencari kerja dari luar daerah.

“Banyak yang datang ke Batam dengan harapan mendapatkan pekerjaan. Namun, tidak semua siap secara keterampilan. Di sinilah tantangan kita bersama,” ujar Amsakar dalam pertemuan dengan awak media, Selasa (7/10/2025).

Data BPS juga menyoroti masalah kualifikasi pendidikan. Hingga 2024, lulusan SMA mendominasi jumlah pengangguran, mencapai 26.162 orang atau lebih dari separuh total pengangguran Batam. Total pengangguran Batam sendiri berhasil ditekan dari 87.903 orang pada 2020 menjadi 50.431 orang pada 2024.

Secara spesifik, tingkat pengangguran perempuan tercatat lebih tinggi, mencapai 8,49 persen.

Menyikapi kondisi ini, Amsakar menilai kunci utama mengatasi pengangguran adalah melalui peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM), terutama keterampilan tenaga kerja lokal.
“Sebagian besar lulusan SMA belum memiliki kemampuan teknis sesuai kebutuhan industri. Karena itu, arah pembangunan pendidikan kita mulai bergeser,” tegasnya.

Pemerintah Kota (Pemko) Batam kini fokus mendorong penguatan pendidikan vokasi melalui pengembangan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang menerapkan sistem link and match dengan kebutuhan industri. Langkah ini diharapkan mampu menghasilkan lulusan yang siap kerja dan langsung terserap oleh investasi yang masuk.

“Kalau sistem ini berjalan baik, investasi yang masuk bisa langsung tersambung dengan tenaga kerja lokal yang siap pakai,” jelas Amsakar.

Amsakar menambahkan, keberhasilan pembangunan Batam tidak cukup diukur dari besarnya nilai investasi, tetapi dari seberapa besar manfaatnya dirasakan masyarakat lokal.
Kota Batam sendiri memiliki dua karakter investasi, yakni padat modal (seperti pembangunan data center yang bernilai tinggi namun minim penyerapan tenaga kerja) dan padat karya (yang mampu membuka lebih banyak lapangan kerja).

“Kami berusaha menyeimbangkan keduanya agar ekonomi tetap tumbuh, tapi peluang kerja juga terbuka luas,” katanya, seraya menekankan bahwa pertumbuhan ekonomi Batam pada 2024 mencapai 6,69 persen, melampaui rata-rata Kepri (5,02 persen) dan nasional (5,03 persen).

Dengan optimisme, Amsakar meyakini bahwa arah pembangunan Batam berada di jalur yang tepat dan dengan kerja sama semua pihak, tantangan pengangguran ini dapat diatasi. (Zul)

Redaktur : Ramadan

banner 336x280

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *