Pertumbuhan Utang Luar Negeri Indonesia Melambat
Pertumbuhan utang luar negeri (ULN) Indonesia mengalami perlambatan. Pada Oktober 2025, ULN Indonesia tercatat sebesar USD 424,4 miliar, lebih rendah dibandingkan posisi ULN pada Juli 2025 yang mencapai USD 432,3 miliar.
Bank Indonesia mencatat bahwa secara tahunan, ULN Indonesia terkontraksi sebesar 0,6 persen (yoy) pada Kuartal III-2025, menurun dibandingkan pertumbuhan 6,4 persen (yoy) pada Kuartal II-2025. Hal ini disebabkan oleh melambatnya pertumbuhan ULN sektor publik dan kontraksi pada ULN sektor swasta.
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Ramdan Denny Prakoso, menyampaikan bahwa perkembangan tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor. Ia menjelaskan bahwa perlahan meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan global turut memengaruhi aliran masuk modal asing pada Surat Berharga Negara (SBN) domestik.
Pertumbuhan ULN Pemerintah yang Melambat
Posisi ULN pemerintah pada Kuartal III-2025 tercatat sebesar USD 210,1 miliar atau tumbuh sebesar 2,9 persen (yoy), lebih lambat dibandingkan pertumbuhan 10,0 persen (yoy) pada Kuartal II-2025. Perkembangan ini disebabkan oleh kontraksi pertumbuhan aliran masuk modal asing pada SBN domestik.
“Sebagai salah satu instrumen pembiayaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), ULN dikelola secara cermat, terukur, dan akuntabel, serta pemanfaatannya terus diarahkan untuk mendukung pembiayaan program-program prioritas yang mendorong keberlanjutan dan penguatan perekonomian nasional,” jelas Ramdan.
Penggunaan ULN Pemerintah
Berdasarkan sektor ekonomi, ULN pemerintah digunakan untuk berbagai sektor penting. Sektor Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial menyumbang 23,1 persen dari total ULN Pemerintah. Selanjutnya, Administrasi Pemerintah, Pertahanan, dan Jaminan Sosial Wajib mencapai 20,7 persen, Jasa Pendidikan sebesar 17,0 persen, Konstruksi 10,7 persen, Transportasi dan Pergudangan 8,2 persen, serta Jasa Keuangan dan Asuransi 7,5 persen.
Di sisi lain, ULN pemerintah didominasi oleh utang jangka panjang dengan pangsa mencapai 99,9 persen dari total ULN pemerintah.
Penurunan ULN Swasta
Meski ULN pemerintah melambat, ULN swasta juga mengalami penurunan. Pada Kuartal III-2025, ULN swasta tercatat sebesar USD 191,3 miliar, lebih rendah dibandingkan posisi pada Kuartal II-2025 yang mencapai USD 193,9 miliar.
Secara tahunan, ULN swasta terus mengalami kontraksi, yaitu dari kontraksi sebesar 0,2 persen (yoy) pada triwulan sebelumnya menjadi 1,9 persen (yoy) pada Kuartal III-2025. Hal ini dipengaruhi oleh kontraksi ULN lembaga keuangan sebesar 3,0 persen (yoy) dan perusahaan bukan lembaga keuangan sebesar 1,7 persen (yoy).
“Berdasarkan sektor ekonomi, ULN swasta terbesar berasal dari Sektor Industri Pengolahan; Jasa Keuangan dan Asuransi; Pengadaan Listrik dan Gas; serta Pertambangan & Penggalian, dengan pangsa mencapai sekitar 81 persen terhadap total ULN swasta,” tambahnya.
Rasio ULN Terhadap PDB Menurun
Meskipun terjadi penurunan, struktur ULN Indonesia tetap sehat. Hal ini didukung oleh penerapan prinsip kehati-hatian dalam pengelolaannya. Rasio ULN Indonesia terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) turun menjadi 29,5 persen pada Kuartal III-2025, dari 30,4 persen pada Kuartal II-2025. Dominasi ULN jangka panjang juga masih tinggi, dengan pangsa sebesar 86,1 persen dari total ULN.
Dalam rangka menjaga kesehatan struktur ULN, Bank Indonesia dan Pemerintah terus memperkuat koordinasi dalam pemantauan perkembangan ULN. “Peran ULN juga akan terus dioptimalkan untuk menopang pembiayaan pembangunan dan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan. Upaya tersebut dilakukan dengan meminimalkan risiko yang dapat memengaruhi stabilitas perekonomian,” imbuh Ramdan.












Komentar