Peran dan Pernyataan Gus Ipul dalam Isu PJ Ketua Umum PBNU
Gus Ipul, yang saat ini menjabat sebagai Menteri Sosial, menepis tegas wacana bahwa dirinya ditunjuk sebagai Pelaksana Tugas (PJ) Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Ia menegaskan bahwa informasi tersebut tidak benar dan menyatakan bahwa struktur organisasi PBNU memiliki mekanisme yang jelas untuk menyelesaikan berbagai masalah.
“Enggak, saya nggak ada potongan untuk jadi ketua (umum) PBNU. Banyak yang lebih layak,” ujar Gus Ipul di Lembang, Jawa Barat, seperti dikutip dari sumber berita terkait.
Ia juga meminta publik untuk langsung merujuk pada pihak Syuriyah jika ingin mendapatkan klarifikasi atas berbagai isu yang beredar. Menurutnya, segala urusan terkait kepemimpinan PBNU berada sepenuhnya di ranah jajaran Syuriyah sebagai pemegang otoritas tertinggi dalam organisasi.
“Oh enggak, enggak, enggak bener itu. Ini sebenarnya kan antara jajaran Syuriyah dengan ketua umum,” kata Gus Ipul.
Mekanisme Penyelesaian Persoalan di PBNU
Gus Ipul menjelaskan bahwa PBNU memiliki tradisi dan mekanisme yang kuat untuk menyelesaikan persoalan secara internal, sesuai kaidah organisasi dan adab jamiyah. Salah satu mekanisme penyelesaian perselisihan yang tersedia adalah majelis tahkim, yang menjadi forum penyelesaian perbedaan pendapat di internal organisasi.
Ia juga mengimbau seluruh pengurus wilayah dan cabang agar tetap tenang dan tidak mudah terpengaruh informasi yang menyesatkan. Menurutnya, saat ini inti persoalan berada di wilayah Rais Aam beserta jajaran Syuriyah PBNU. Ia meminta agar isu ini tidak dibelokkan menjadi polemik lain yang dapat memicu kegaduhan umat.
“Saya ingin semuanya mengikuti dengan baik dan diselesaikan dengan cara-cara yang selama ini menjadi tradisi NU,” katanya.
Proses Administratif dalam Penerbitan Dokumen Organisasi
Selain itu, Gus Ipul menjelaskan prosedur administratif dalam penerbitan surat-surat organisasi, termasuk perannya sebagai Sekretaris Jenderal (Sekjen). Menurutnya, setiap dokumen yang membutuhkan tanda tangan harus melalui alur input data dan pemeriksaan kelengkapan syarat.
“Ada prosedurnya, ada ketentuannya. Sistem ini tergantung inputnya. Kalau input belum dimasukkan, saya belum bisa tanda tangan. Kalau sudah, saya periksa apakah syaratnya terpenuhi, baru saya tandatangani,” jelasnya.
Kunjungan Gus Yahya ke Pondok Pesantren Lirboyo
Di tengah kisruh yang terjadi di internal, kunjungan Gus Yahya ke Pondok Pesantren Lirboyo juga menjadi tanda tanya. Gus Ipul menyebut hal itu sebagai tradisi wajar dalam kultur Nahdlatul Ulama. Menurutnya, para pengurus PBNU rutin sowan ke para kiai untuk meminta nasihat, baik dalam kondisi ada persoalan maupun tidak.
“Kita memang meminta nasihat ulama, para pengasuh pesantren. Ini hal biasa, bukan sesuatu yang istimewa. Kalau tidak ada masalah pun kita sowan,” ujarnya.
Kondisi di PWNU Jawa Tengah
Sementara itu, menyikapi dinamika PBNU, Ketua PWNU Jawa Tengah, KH Abdul Ghaffar Rozin, mengaku pihaknya sudah menerima informasi mengenai risalah hasil rapat harian Syuriyah PBNU tersebut. “Ya, sudah disampaikan (ke PWNU). Sudah ada beberapa rapat. Namun itu sepenuhnya ranah PBNU, bukan PWNU,” kata pria yang akrab disapa Gus Rozin ini saat dihubungi TribunJateng.com via sambungan telepon.
Dia juga mengatakan telah menyampaikan pada semua PCNU di Jateng agar tenang, tidak perlu menyikapi “turbulensi” ini secara berlebihan, dan semuanya agar fokus dalam kerja masing-masing.




















Komentar