oleh

Puisi Esai: Kampungku di Aceh Hilang

-Berita-35 Dilihat
banner 468x60

Perjalanan Duka Zainal: Empat Kampung yang Hilang Akibat Banjir Besar di Aceh

Dalam sebuah puisi yang penuh makna, Zainal menggambarkan perasaan kehilangan yang mendalam setelah empat kampung di Aceh hilang akibat banjir besar pada November 2025. Dari awal hingga akhir, ia berusaha memahami betapa besar dampak bencana ini terhadap hidupnya dan keluarganya.

“Baru dua hari ia menjauh dari Aceh, namun ketika menoleh, kampungnya telah tiada, seperti halaman kitab yang dirampas langit tanpa sempat meninggalkan serpihan tinta.” Kalimat-kalimat ini menggambarkan perasaan kehilangan yang tak bisa dinyatakan dengan kata-kata. Zainal merasa bahwa dunianya telah berubah secara permanen, seolah-olah segala sesuatu yang ia kenal telah lenyap begitu saja.

banner 336x280

Pesan singkat tentang banjir besar yang datang kepadanya hanya berisi dua kata, “Banjir besar…”, namun bagi Zainal, dua kata itu cukup untuk menggoyahkan seluruh dunianya. Bayangan keluarga yang menyala seperti lampu yang menahan napas di ujung padam menjadi simbol dari rasa takut dan kecemasan yang ia alami.

Pertanyaan kecil Lala, putrinya, dulu hanya terdengar seperti rasa ingin tahu, kini berubah menjadi nubuat yang menggigil. “Ayah, kalau hujan keras, Lala sembunyi di mana?” Pertanyaan itu kembali menghantam dadanya dengan jawaban yang tak bisa ia lupakan: “Di dada Ayah, sayang… selalu di dada Ayah.” Anggukan Lala menjadi doa kecil yang ia simpan seperti bunga di antara halaman langit. Namun Zainal tak sadar bahwa janji itu tumbuh menjadi sesuatu yang tak sempat ia jaga.

Saat roda pesawat menyentuh bumi, bumi lain justru hilang dari hidupnya: Sawang, Jambo Aye, Peusangan, dan satu kampung lagi hilang akibat arus yang menghancurkan. Empat kampung disapu oleh banjir, menjadi huruf-huruf basah yang dihapus sungai sebelum sempat dibaca sejarah. Zainal memaksa pulang, namun jalan ke Sawang sudah tiada. Yang tersisa hanyalah parut bumi yang terbelah seperti mulut raksasa, menelan masa lalu tanpa sisa.

Ia berdiri di tepi jurang, berteriak sekencang mungkin: “Lala! Ayah pulang!” Teriakannya menanduk langit, retak menjadi serpihan gema yang hanya didengar awan. Awan yang hari itu pun sedang belajar menangis. Zainal terjatuh ke dalam dirinya sendiri; nama Tuhan berputar di dadanya seperti layang-layang putus benang, menyentuh langit sebentar, lalu jatuh kembali ke lumpur.

Angin datang membawa sisa suara kampung: pecahan azan, tawa anak, derit papan rumah, berputar di telinga Zainal seperti kawanan burung kehilangan arah yang jatuh satu per satu ke dadanya, menjelma kawah sunyi yang tak bisa lagi ia tutup dengan doa.

Di antara lumpur yang menelan nama manusia, sebuah sandal ungu mengapung. Sandal kecil itu tampak ringan, namun bagi Zainal rasanya seberat seisi Aceh. Lala punya sandal seperti itu. Dan ia bertanya dalam hati yang retaknya tak sanggup ia sembunyikan: apakah itu sandal Lala?

Di tengah duka itu, ia teringat dirinya yang muda: aktivis yang pernah berteriak menolak hutan Sawang ditebang, hutan yang kini, seperti dirinya, kalah oleh dunia yang tumbuh tanpa jiwa. Di hulu, para penebang menumpuk batang pohon seperti kitab suci yang kehilangan ayat; setiap gergaji yang bergerak menghapus satu doa hujan, mengirim banjir sebagai khotbah terakhir bumi yang letih.

Dulu pohon-pohon itu berdiri sebagai penjaga kampung, menulis doa dengan akar. Kini mereka mengapung sebagai mayat panjang, membawa pesan: “Kami tumbang dulu. Kini giliran kalian merasakan sunyi kami.”

Alam tak membalas dengan amarah, melainkan dengan kearifan yang tak pernah meleset: yang digergaji akan balas menggergaji, yang ditebang akan kembali dalam bentuk banjir yang tak mengenal belas kasih. Di dalam kepalanya, potongan sejarah berputar menjadi kaca patri yang pecah: letup senjata, serak sirene, janji penghijauan yang menggantung di lampu hotel, garis tinta yang merobek peta konsesi. Semua pecahan itu memantulkan satu kata yang bahkan tak sanggup ia bisikkan kepada dirinya sendiri: pulang.

Di kepalanya malam pecah seperti bendungan tua; nama Lala, deru gergaji, dan sirene kamp pengungsian bertabrakan, menjadi satu arus gelap yang menyeret seluruh peta Aceh ke dalam dadanya. Malam itu, di antara puing dan doa yang patah, Zainal berlutut. Ia menggenggam sandal ungu itu seperti menggenggam sebuah planet kecil, dan ia merasakan retaknya di telapak tangannya.

Di genggamannya, hutan dan Lala menjelma satu bayangan: rindang rambut putrinya serupa rimbun daun yang pernah meneduhkan kampung. Ketika batang-batang tumbang tanpa doa, baru ia paham, setiap pohon yang roboh adalah helai napas Lala yang diam-diam dipatahkan. Dan kampungnya di Aceh, yang malam itu entah di mana hilangnya, berubah menjadi air mata dan air bah, bersuara melalui angin: “Ingatlah aku. Rawatlah aku. Sebelum aku kembali hanya sebagai kenangan.”

banner 336x280

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *