oleh

ANALISIS — Menepis Ilusi Pertumbuhan: Mengapa ‘Humane Economy Global Discourse 2026’ Menjadi Titik Balik Krisis Global?

banner 468x60

KUALA LUMPUR, (SOROT1.ID) — Indikator makroekonomi tradisional global kerap kali menampilkan fatamorgana. Ketika grafik pertumbuhan PDB merangkak naik dan pasar saham mencetak rekor baru, jutaan orang di berbagai belahan dunia justru berjuang menghadapi realitas yang bertolak belakang: lonjakan biaya hidup yang mencekik, jaminan kerja yang kian terkikis akibat otomatisasi radikal, serta ancaman nyata dari krisis iklim.

Istimewah

Ketimpangan struktural ini melahirkan sebuah gugatan mendasar: untuk siapa sebenarnya roda ekonomi dunia ini berputar?

banner 336x280
Istimewah

Mencari jawaban atas anomali global tersebut, Malaysia mengambil inisiatif strategis dengan mengumumkan peluncuran resmi Humane Economy Global Discourse (HEGD) 2026. Forum internasional perdana ini dijadwalkan berlangsung pada 22–23 Juli 2026 di World Trade Centre Kuala Lumpur (WTCKL), mengusung misi besar yang tertuang dalam tema: “Memulihkan Kemanusiaan demi Kemakmuran Bersama.”

Istimewah

Agenda akbar ini akan dibuka secara resmi oleh Perdana Menteri Malaysia, YAB Dato’ Seri Anwar Ibrahim, yang selama ini vokal menggaungkan konsep pembangunan inklusif, dan akan ditutup oleh Menteri di Jabatan Perdana Menteri (Hal Ehwal Agama), YB Senator Dr. Zulkifli Hasan.

Istimewah

Menggandeng Kekuatan Lintas Sektor

Bergerak di bawah bendera Forum Ekonomi Manusiawi (FEM), HEGD 2026 tidak berjalan sendiri. Forum ini membangun ekosistem kemitraan yang solid bersama para mitra strategis, meliputi:

  • Majlis Agama Islam Wilayah Persekutuan (MAIWP)

  • Yayasan Pembangunan Ekonomi Islam Malaysia (YAPEIM)

  • Yayasan Hasanah

  • World Trade Centre Kuala Lumpur (WTCKL)

    Istimewah

Selain itu, kolaborasi ini diperkuat oleh dukungan dari berbagai organisasi non-pemerintah dan institusi akademik, termasuk Perbadanan Perpustakaan Awam Selangor (PPAS), Oxford Intellect, Universiti Selangor (UNISEL), Fibernatic Group, Global Peace Mission (GPM) Malaysia, dan Institut Kefahaman Islam Malaysia (IKIM). Sinergi ini menegaskan tekad bersama untuk melahirkan paradigma baru yang menempatkan manusia sebagai pusat dari kebijakan ekonomi.

Arsitek Pemikiran Baru di Panggung HEGD 2026

Istimewah

Untuk membongkar kejenuhan teori ekonomi konvensional, HEGD 2026 mengumpulkan para pakar lintas disiplin yang rekam jejak akademis maupun praktisnya telah diakui dunia. Kehadiran mereka diharapkan mampu merumuskan alternatif kebijakan publik yang etis dan aplikatif.

Istimewah

Beberapa tokoh kunci yang dipastikan memimpin jalannya diskusi antara lain:

  1. Prof. Jeffrey D. Sachs: Ekonom global terkemuka sekaligus arsitek Sustainable Development Goals (SDGs) PBB, yang dikenal dengan kritik tajamnya terhadap kapitalisme tanpa regulasi moral.

  2. Prof. Dr. Jasser Auda: Pemikir Islam kontemporer yang mendefinisikan ulang implementasi hukum Islam (Maqasid al-Shariah) sebagai instrumen perlindungan hak dan kesejahteraan manusia.

  3. Prof. Dr. Jomo Kwame Sundaram: Pakar ekonomi pembangunan peraih Wassily Leontief Prize, yang konsisten menyuarakan keadilan ekonomi bagi negara-negara berkembang.

  4. Prof. Tan Sri Dr. Osman Bakar: Penerima penghargaan Tokoh Maal Hijrah 1448H/2026M, pemikir yang menjembatani spiritualitas, sains, dan peradaban modern.

    Istimewah

Arsitektur Forum: Tiga Ruang Dialog Paralel

Menghindari jebakan diskusi teoritis yang mengawang-awang, HEGD 2026 membagi jalannya forum ke dalam tiga pilar dialog operasional guna menampung aspirasi spesifik dari tiap pemangku kepentingan:

  • Jalur Bisnis & Keuangan: Fokus pada transformasi korporasi. Membahas bagaimana kepemimpinan etis dan investasi berbasis ESG (Environmental, Social, and Governance) dapat diadopsi bukan sekadar sebagai pemanis laporan tahunan, melainkan sebagai fondasi pertumbuhan berkelanjutan.

  • Jalur Pemuda: Mengakomodasi suara generasi digital yang paling rentan terdampak oleh disrupsi dunia kerja dan krisis iklim. Jalur ini menjadi inkubator gagasan bagi para pemimpin masa depan untuk merancang sistem ekonomi yang adil secara antargenerasi.

  • Jalur Masyarakat Sipil (LSM): Menitikberatkan pada solusi inklusif yang digerakkan dari bawah (bottom-up), penguatan ekonomi berbasis komunitas, serta inovasi sosial yang langsung menyentuh kelompok marjinal.

    Istimewah

Sebuah Kritik Terbuka: Martabat di Atas Angka

Dalam peluncuran media internasional hari ini, Prof. Dato’ Dr. Saadiah Mohamad, Ketua FEM sekaligus Direktur HEGD 2026, menyampaikan esensi utama dari perhelatan global ini. Beliau menekankan bahwa kegagalan sistem ekonomi saat ini berakar dari kesalahan kita dalam menentukan indikator keberhasilan.

Istimewah

“Dunia harus berhenti menyembah angka statistik yang dingin jika angka tersebut mengabaikan penderitaan manusia. Tolok ukur sejati sebuah perekonomian bukan sekadar seberapa besar kekayaan yang berhasil dihasilkannya, melainkan seberapa banyak kehidupan yang diperbaikinya. Kemajuan ekonomi yang sejati harus mampu menjunjung tinggi martabat manusia,” pungkas Prof. Saadiah.

Istimewah

Melalui HEGD 2026, Kuala Lumpur bersiap menjadi episentrum lahirnya gagasan ekonomi baru. Hasil akhir dari forum ini ditargetkan mampu memberikan cetak biru panduan kebijakan operasional yang dapat diadaptasi oleh berbagai negara untuk keluar dari jerat krisis multidimensi abad ini. (ril/***)

Editor : Ramadhan

banner 336x280

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *