oleh

Kontroversi Pernyataan Prabowo tentang Sawit dan Pohon Korban Bencana

-Berita-22 Dilihat
banner 468x60

Pernyataan Lama Prabowo Subianto Kembali Jadi Perbincangan Pasca Bencana

Pernyataan lama Presiden Prabowo Subianto tentang kelapa sawit dan pohon kembali mencuat setelah bencana banjir dan longsor melanda beberapa daerah di Sumatera dan Aceh. Pernyataan yang sempat memicu kontroversi ini kini kembali menjadi perhatian publik, terutama setelah bencana alam tersebut menimbulkan korban jiwa dan kerusakan besar.

Per 1 Desember 2025, korban longsor di Aceh, Sumatera Barat (Sumbar), dan Sumatera Utara (Sumut) tercatat sebanyak 442 orang. Sebanyak 402 orang masih dalam pencarian. Upaya pencarian korban masih terus dilakukan oleh berbagai pihak, termasuk aparat TNI dan Polri serta relawan.

banner 336x280

Kontroversi Pernyataan Prabowo Subianto

Pernyataan kontroversial Prabowo Subianto muncul pada Desember 2024 saat ia menyampaikan pidato dalam acara Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang). Dalam pidatonya, ia mengatakan bahwa Indonesia perlu memperluas lahan perkebunan kelapa sawit tanpa perlu takut hutan Indonesia mengalami deforestasi.

“Saya kira ke depan kita juga harus tambah tanam kelapa sawit. Enggak usah takut,” ujar Prabowo.

Ia juga menambahkan, “Apa itu katanya membahayakan, deforestation. Namanya kelapa sawit ya pohon, ya kan?” lanjutnya.

Prabowo menjelaskan bahwa kelapa sawit adalah pohon yang dapat menyerap karbondioksida, sehingga tidak seharusnya dituduh merusak lingkungan. Ia juga menekankan bahwa banyak negara tetangga membutuhkan kelapa sawit sebagai komoditas strategis. Oleh karena itu, ia meminta kepala daerah dan aparat TNI/Polri untuk menjaga kebun kelapa sawit Indonesia.

Deforestasi sendiri merupakan proses penggundulan atau pengurangan luas hutan secara besar-besaran, baik akibat aktivitas manusia maupun bencana alam. Hutan yang mengalami deforestasi akan berubah menjadi lahan nonhutan seperti area pertanian, perkebunan, peternakan, atau permukiman.

Korban Banjir di Sumatera dan Aceh

Bencana hidrometeorologi yang terjadi di Aceh dan Sumatera telah menewaskan 442 orang hingga 30 November 2025. Saat ini, sebanyak 402 orang masih dalam pencarian. Angka ini dirilis oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melalui siaran pers.

Berikut rinciannya:

  • Di Sumatera Utara (Sumut):

    Terdapat 217 jiwa meninggal dunia dan 209 orang hilang. Korban tersebar di beberapa kabupaten seperti Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, Kota Sibolga, dan lainnya.

  • Di Sumatera Barat (Sumbar):

    Tercatat 129 jiwa meninggal dunia, 118 orang hilang, dan 16 luka-luka. Total pengungsi mencapai 11.820 KK atau 77.918 jiwa, dengan konsentrasi terbesar di Kota Padang dan Kabupaten Pesisir Selatan.

  • Di Aceh:

    Terdapat 96 jiwa meninggal dunia dan 75 orang hilang. Korban tersebar di berbagai kabupaten seperti Bener Meriah, Aceh Tengah, dan lainnya. Jumlah pengungsi mencapai 62.000 KK di berbagai kabupaten/kota.

Reaksi Publik dan Isu Lingkungan

Pernyataan Prabowo ini kembali menjadi perbincangan setelah bencana alam yang melanda beberapa wilayah Sumatera dan Aceh. Masyarakat mulai mempertanyakan dampak dari perluasan perkebunan kelapa sawit terhadap lingkungan dan keberlanjutan ekosistem.

Beberapa ahli lingkungan menilai bahwa pernyataan Prabowo bisa memberikan kesan bahwa kelapa sawit tidak berbahaya, padahal deforestasi tetap menjadi ancaman serius bagi hutan dan keanekaragaman hayati.

Meski begitu, pendapat Prabowo juga mendapat dukungan dari kalangan tertentu yang berpendapat bahwa kelapa sawit adalah sumber daya penting yang harus dipertahankan untuk kepentingan ekonomi nasional.


banner 336x280

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *