JAKARTA, (SOROT1.ID) — Berolahraga memang menjadi salah satu cara terbaik untuk menjaga kesehatan jantung. Namun, olahraga yang dilakukan secara berlebihan ternyata dapat meningkatkan risiko gangguan pada jantung. Salah satu contoh olahraga yang dianggap berlebihan adalah lari full maraton.
Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah dari Island Hospital Penang, Malaysia, Dr. Ma Soot Keng, menjelaskan bahwa aktivitas fisik tetap lebih baik daripada tidak berolahraga sama sekali. Namun, ia mengingatkan bahwa olahraga dengan intensitas yang berlebihan atau over exercise tidak baik bagi kesehatan.
“Sedikit olahraga itu bagus. Lebih banyak olahraga masih oke. Tapi over exercise tidak baik. Namun, itu tetap lebih baik daripada tidak berolahraga sama sekali,” ujar Dr. Ma Soot Keng kepada wartawan.
Menurut Dr. Ma, salah satu contoh olahraga yang tergolong berlebihan adalah lari full maraton sejauh 42 kilometer.
Menurutnya, pelari marathon memiliki peningkatan risiko mengalami aritmia atau gangguan irama jantung.
“Pelari maraton memang meningkatkan risiko aritmia karena maraton merupakan contoh tipikal over exercise,” katanya.
Dr. Ma menjelaskan bahwa tubuh manusia secara fisiologis tidak dirancang untuk berlari sejauh 42 kilometer tanpa henti.
Menurutnya, secara evolusi nenek moyang manusia tidak pernah membutuhkan aktivitas fisik ekstrem seperti itu untuk bertahan hidup.
“Kalau sekitar 25 kilometer masih oke, tetapi 42 kilometer sudah termasuk over exercise. Dalam gen manusia, tubuh tidak pernah dirancang untuk berlari 42 kilometer tanpa berhenti,” jelasnya.
Meski demikian, ia menegaskan masyarakat tidak perlu takut untuk berolahraga. Aktivitas fisik secara rutin tetap memberikan manfaat besar bagi kesehatan jantung selama dilakukan dalam batas yang wajar dan disesuaikan dengan kondisi masing-masing.
Olahraga yang teratur dan sesuai dengan kemampuan tubuh bisa membantu meningkatkan daya tahan jantung, mengurangi risiko penyakit kardiovaskular, serta meningkatkan kualitas hidup secara keseluruhan.
Selain membahas olahraga, Dr. Ma juga menyinggung konsumsi alkohol untuk kesehatan jantung. Menurutnya, alkohol masih dapat dikonsumsi dalam jumlah yang sangat terbatas.
Ia mengacu pada rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), yakni tidak lebih dari tujuh standard drinks dalam satu minggu. Satu standard drink setara dengan sekitar 30 cc minuman beralkohol jenis spirits, 100 cc wine, atau setengah pint bir.
“Jawabannya bisa, tetapi dosisnya harus sangat ketat, yaitu kurang dari tujuh standard drinks dalam satu minggu,” pungkasnya.
Dari penjelasan Dr. Ma Soot Keng, terlihat bahwa olahraga dan gaya hidup sehat memang penting, namun perlu diperhatikan keseimbangan. Terlalu berlebihan dalam melakukan aktivitas fisik dapat berdampak negatif pada kesehatan jantung. Begitu pula dengan konsumsi alkohol, meskipun bisa dilakukan, tetapi harus dalam batasan yang sangat ketat.
Dengan kesadaran akan batasan dan kebutuhan tubuh, kita bisa menjaga kesehatan jantung secara optimal tanpa merugikan diri sendiri. (Red)
Editor: Ramadhan














Komentar