oleh

Pengalaman Berbisnis di Tengah Kegelapan

-Berita-34 Dilihat
banner 468x60

Perjalanan Seorang Pengusaha Kecil di Tengah Pandemi

“Kemuliaan terbesar dalam hidup bukanlah tidak pernah jatuh, tetapi bangkit setiap kali kita jatuh.” – Nelson Mandela

Kalimat ini menginspirasi banyak orang, termasuk saya. Masa pandemi yang dimulai pada awal tahun 2020 seperti badai yang menerjang tanpa aba-aba. Ia mengguncang ritme kehidupan dan memaksa semua orang untuk beradaptasi. Bagi saya, masa itu bukan hanya tentang bertahan, tetapi juga tentang menemukan keberanian baru. Dari situ, saya memutuskan untuk memulai bisnis sendiri dari rumah.

Saat itu, saya masih harus masuk kerja dengan jadwal piket seminggu dua kali. Dengan begitu, saya punya waktu yang cukup banyak di rumah. Dari sanalah perjalanan bisnis kecil-kecilan saya dimulai.

banner 336x280

Keberanian Menghadapi Kekurangan

Pada masa itu, pasar-pasar tutup dan warga kesulitan mendapatkan bahan kebutuhan pokok. Situasi yang tidak pasti ini menyentuh hati saya. Banyak keluarga yang bingung mencari sayur, bawang, atau bahan masakan sehari-hari. Saat itulah saya mulai berjualan dari rumah, sekadar membantu tetangga dan teman, tanpa menyangka bahwa usaha kecil ini akan berkembang.

Bawang menjadi “harta karun” saat itu. Bawang putih, bawang merah, bawang bombay, bahkan bawang India ludes setiap hari. Saya menerima ajakan teman untuk menjual sembako, tahu susu, segala jenis bawang, sayuran, hingga makanan siap konsumsi. Permintaan tak pernah berhenti. Bahkan saya mendapat tawaran untuk bergabung menjadi reseller peralatan rumah tangga yang kala itu ikut booming.

Jadi Reseller Sekaligus Kurir di Kota Sepi

Modal saya bukan uang besar, tetapi nekat. Saya mengantar sendiri seluruh pesanan dari pagi, siang, dan malam ke berbagai penjuru kota Malang, Batu, dan beberapa area kabupaten Malang.

Jalanan sepi, suasana mencekam, dan hampir semua perumahan dipasang portal karena kecemasan warga. Masuk ke sebuah perumahan saja bisa memerlukan izin panjang dari aparat kampung.

Saya seperti bergerak nonstop. HP menyala 24 jam. Selain melayani pesanan, saya juga mengemban tugas sebagai ketua lingkungan yang harus siaga jika ada warga yang sakit atau meninggal. Pandemi betul-betul menyisakan trauma dan lelah yang tak terucapkan, tetapi juga tekad yang kuat untuk terus membantu.

Orderan Bahan Makanan Membludak

Orderan bahan makanan membludak, terutama menjelang Ramadan dan Lebaran. Kurma, kue kering, minuman bersoda, permen, coklat, makanan ringan merupakan pesanan dalam daftar panjang dan tidak berhenti. Semua saya catat manual, takut ada pesanan yang terlewat.

Keuntungan usaha ini adalah sistem konsinyasi. Saya tidak perlu modal besar karena barang dibayar setelah dikirim dan setelah konsumen membayar. Di masa krisis, sistem seperti ini menjadi penyelamat.

Duka dan Ujian yang Tak Terhindarkan

Di balik geliat usaha yang terus tumbuh, tidak sedikit duka yang harus saya telan:

  • Pesanan sering tidak sesuai karena stok barang mendadak kosong.
  • Mengantar pesanan dari pagi hingga malam, yang tersulit adalah jika ada pesanan lauk dan masakan yang harus dikirim bersamaan.
  • Kendala masuk ke perumahan yang dipenuhi portal dan aturan ketat.
  • Dan yang paling menyakitkan: seorang teman reseller kabur, membawa barang-barang yang ia pesan tanpa membayar.

Itu bukan hanya kerugian materi, tetapi pukulan secara emosional.

Saat Bisnis Menurun dan Cobaan Datang Lagi

Ketika pandemi mereda, keadaan berangsur berubah. Warga kembali nyaman belanja langsung ke pasar. Penjualan pun menurun. Saya tetap bertahan sebagai reseller peralatan rumah tangga juga aneka pakaian, dan masih melayani pelanggan lama.

Namun ujian kembali datang. Saya menerima order jaket dalam jumlah besar. Sayangnya, warna jaket yang datang tidak sama, padahal itu untuk seragam. Saya berusaha keras mengembalikan sebagian besar jaket dan menukar dengan warna yang benar.

Di sinilah saya mengalami kerugian yang cukup besar dan hubungan saya dengan konsumen yang juga teman menjadi renggang. Luka itu cukup membekas, membuat saya mempertimbangkan ulang arah langkah selanjutnya.

Mengakhiri Perjalanan, Memulai Babak Baru

Pertengahan 2023 menjadi titik henti. Saya memutuskan berhenti total dari dunia reseller dan kembali fokus pada dunia yang sejak dulu saya cintai: menulis dan desain. Bagi saya, apa pun yang saya kerjakan harus memberi sukacita. Tanpa sukacita, saya tidak bisa memberi dengan tulus dan menjadi berkat bagi orang lain.

Melalui seluruh proses ini, saya belajar bahwa bisnis bukan hanya soal untung atau rugi. Ia adalah perjalanan batin, tentang ketekunan, keberanian, kehilangan, pengharapan, dan kelapangan hati. Meski usaha itu kini tinggal kenangan, pengalaman yang saya dapatkan tetap melekat dan membentuk siapa saya hari ini.

Karena dalam badai apa pun, selalu ada sisi yang menumbuhkan. Dan saya memilih untuk tumbuh.

banner 336x280

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *