oleh

MBG Tingkatkan Permintaan Kedelai, UMKM Tempe Berkembang Pesat

-Berita-25 Dilihat
banner 468x60

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai Pemicu Pertumbuhan Ekonomi

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak hanya bertujuan untuk menyediakan makanan bergizi bagi anak-anak sekolah, tetapi juga memberikan dampak ekonomi yang signifikan bagi UMKM penyuplai bahan baku hingga para petani sebagai produsen utama. Dalam konteks ini, MBG menjadi salah satu model ekonomi baru yang berorientasi pada kesejahteraan sosial sekaligus pertumbuhan bisnis.

Cucup Ruhiat, Direktur PT Azaki Food Internasional, perusahaan eksportir tempe yang kini telah memasok produk protein itu ke 12 negara di Asia dan Eropa, mengakui bahwa program ini bukan hanya soal penyediaan bahan makanan bagi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), tetapi juga menjadi katalis pertumbuhan bagi UMKM. Menurut Cucup, setiap rumah produksi yang dimiliki perusahaannya mampu menyuplai lima hingga 15 dapur MBG. Jika dikalikan dengan ratusan dapur di berbagai wilayah, program ini membuka rantai nilai baru yang memberi dampak ekonomi luas.

banner 336x280

Dampak Ekonomi yang Luas

Dari segi ekonomi, MBG berdampak positif terhadap berbagai pihak. Petani kedelai semakin hidup, produsen tempe berkembang, tenaga kerja lokal terserap, dan industri pengolahan pangan masuk dalam orbit kebijakan nasional. Dengan demikian, UMKM tidak hanya menjadi objek pembinaan, tetapi juga aktor penting dalam pembangunan ekonomi.

Sebagai informasi tambahan, PT Azaki Food Internasional adalah pemasok tempe frozen ke berbagai negara. Dalam sebulan, Azaki mengekspor tidak kurang dari 150 ton tempe ke Arab Saudi, Korea, Chile, Australia, hingga Inggris. Omzet perusahaan ini terus meningkat setelah memasok kebutuhan ratusan dapur MBG. Menurut Cucup, UMKM memiliki tanggung jawab moral: bukan sekadar entitas bisnis, UMKM adalah penjaga kestabilan sosial, penyangga ekonomi keluarga, dan penggerak ekonomi lokal.

Kerja Sama Internasional

Terbaru, Cucup menandatangani nota kesepahaman perdagangan dengan perusahaan asal Arab Saudi dan Chile. Salah satu poin kerjasama tersebut adalah pengiriman tiga kontainer tempe beku per bulan ke Jeddah, Arab Saudi, serta 12 kontainer per tahun ke Chile. “Saya enggak pernah menyangka bisa ekspor,” ujarnya. Menurut Cucup, kesuksesan mengangkat dapur kecilnya ke panggung global bukan hanya berkat ketekunannya, tetapi juga dukungan pemerintah, masyarakat, dan pasar.

Titik Balik Perjalanan Bisnis

Perjalanan bisnis Cucup dimulai pada 2005 bersama sang kakak. Ia mengajak para perajin tempe membenahi manajemen dan meningkatkan kualitas produk agar omzet bisa tumbuh. Ia sempat memperluas pasar Azaki ke Kalimantan, namun usahanya stagnan selama hampir satu dekade.

Titik balik itu datang pada 2016. Cucup memutuskan belajar kembali dari nol tentang tempe, manajemen produksi, dan standar industri. Ia melengkapi berbagai dokumen perizinan seperti sertifikat halal dan sertifikat keamanan pangan BPOM. Ia bahkan mencoba membuat keripik tempe, namun produk itu kurang diterima pasar.

Tak patah semangat, Cucup tetap bergerak. Ia memperluas jaringan, belajar kepada produsen tahu modern, Rumah Tempe Indonesia, hingga berguru kepada ahli tempe, Made Astawan. “Dari situ saya tahu, ternyata tempe termasuk superfood, makanan bergizi tinggi yang diakui dunia,” tuturnya.

Peluang Saat Pandemi

Kesempatan besar datang saat pandemi Covid-19 melanda. Saat banyak bisnis terpukul, proses perizinan justru beralih ke sistem digital, memudahkan pengurusan dokumen yang sebelumnya rumit. “Pandemi justru membuat semuanya lebih mudah karena semuanya online. Saya sangat terbantu,” kata Cucup.

Sejak itu, produksi tempe Azaki terus melonjak karena tingginya permintaan, termasuk dari perusahaan-perusahaan luar negeri. UMKM seperti Azaki yang dulu hanya mengandalkan dapur kecil akhirnya menjelma menjadi pemain global.

banner 336x280

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *