Hubungan romansa yang terjadi saat ini sering kali digantungkan pada istilah “Standar TikTok”. Aplikasi media sosial yang menampilkan konten video berdurasi 30-60 detik, yang awalnya hanya menjadi tempat untuk berjoget dan bersenang-senang, kini berubah menjadi tempat bagi banyak orang untuk membangun ekspektasi hidup mereka, termasuk dalam kisah romansa. Ekspektasi romansa versi “novel wattpad dengan soft aesthetic dan couple goals” kini menjadi standar baru dalam menjalin hubungan romantis. Dan, apakah kamu salah satu dari korban “FypTiktok” ini?
Mari kita bicara tentang hal ini.
Sebenarnya, standar TikTok itu sangat keras. Konten-konten yang disajikan membuat ekspektasi bahwa usaha dalam sebuah hubungan selalu berupa validasi sosial yang harus diakui. Akibatnya, muncul fenomena baru di mana hubungan yang terlihat bagus di kamera lebih diutamakan daripada hubungan yang benar-benar sehat dalam kehidupan nyata. Banyak pasangan bahkan bertengkar hanya karena “kamu kok ngga rekam aku kayak yang di TikTok itu”. Hal ini membuat hubungan semakin berat, dan banyak pasangan gagal mempertahankannya bukan karena tidak cocok, tapi karena “kamu kok ngga romantis kayak pasangan yang di video itu sih”. Hal ini membuat kita lupa bahwa hubungan tidak selalu tentang validasi dan visualisasi estetik, tetapi tentang dua orang yang sama-sama berusaha meski kadang caranya tidak se-aesthetic Fyp TikTok.
Situasi ini semakin relevan dengan generasi sekarang, karena kita tumbuh bersamaan dengan konten yang menggabungkan antara realita dan dunia maya. Video-video romantis dan manis yang kita lihat setiap hari di fyp tidak menunjukkan sisi gelapnya, seperti tidak ada debat akibat salah paham pesan, tidak ada momen lelah yang membuat dua orang saling diam-diam, atau scene ketika dua orang sedang belajar untuk mengalah meski sudah capek setengah mati.
Yang jelas, apa yang ditampilkan di layar hanya momen indah yang telah dipilih, disaring, dan difilter agar “cinta” terlihat mudah. Padahal di dunia nyata, semuanya jauh lebih rumit, hanya saja kita tidak melihatnya. Karena kita terlalu sering disuguhi cuplikan manis itu, tanpa sadar kita mulai merasa bahwa hubungan yang sedang kita jalani terasa “kurang”. Kurang romantis, kurang estetik, dan hubungan jadi dihantui rasa kurang setiap saat. Yang harus kita sadari adalah bahwa “Fyp” yang kita lihat di TikTok hanyalah potongan yang menampilkan sisi paling sempurna dalam hidup seseorang, sementara kita yang melihat membandingkannya dengan versi nyata yang tidak “edit” dari hidup kita sendiri.
Pada akhirnya, banyak dari kita jadi merasa bahwa hubungan harus selalu sempurna. Jika tidak ada kejutan atau momen manis, kita jadi insecure. Jika pasangan tidak peka 24/7, kita langsung menganggapnya kurang usaha. Jika komunikasi rusak, kita langsung berpikir dia akan meninggalkan kita. Padahal, mungkin itu cara pasangan menunjukkan cintanya, karena semua orang memiliki cara yang berbeda.
Inilah alasan mengapa banyak orang menjadi hopeless romantic. Mereka percaya bahwa cinta harus selalu indah, manis, dan sesuai dengan tampilan di media sosial. Hopeless romantic lahir dari ekspektasi bahwa hubungan harus selalu seperti fyp, yang indah, terencana, dan dramatis. Kita ingin ending yang bahagia seperti yang kita lihat di timeline, dan ketika hubungan tidak bisa memberikan itu, kita justru merasa gagal dan merasa tidak cocok.
Kita mencintai orangnya, tapi kita jatuh cinta pada imajinasi hubungan yang kita buat sendiri. Hopeless romantic sering bertahan bukan karena hubungan yang sehat, tetapi karena kita terlalu jatuh ke dalam bayangan indah yang kita bentuk sendiri di kepala. Dan akan merasa tersakiti jika itu semua tidak sesuai dengan harapan. Di sisi lain, pasangan kita mungkin juga tertekan. Mereka merasa harus memenuhi standar yang bahkan bukan “untuk mereka”. Hubungan tidak lagi menjadi perjalanan menyenangkan, tapi berubah menjadi kompetisi yang dikejar oleh validasi fyp TikTok.
Padahal, pada akhirnya, cinta yang bertahan bukan yang paling viral, tetapi yang paling nyata. Tidak perlu lighting untuk terlihat bagus, dan tidak perlu caption manis untuk menunjukkan rasa tulus, karena sempurna itu diperjuangkan bersama. Jadi, jika hubunganmu saat ini jauh dari kata “standar TikTok”, jangan buru-buru merasa gagal karena bisa jadi hubungan yang kamu jalani saat ini justru lebih sehat dari apa yang kamu lihat di fyp-mu itu.
Cinta bukan ajang pamer, kamu dan pasangan tidak harus tampil sempurna agar dikomentari “couple goals”. Cinta hanya butuh dua orang yang sama-sama mau berusaha, tidak perlu bukti untuk dipamerkan ke semua orang kalau kalian “sempurna”. Kadang, hubungan yang tidak pernah muncul di FYP biasanya yang paling nyata. Mereka terlalu sibuk membangun perasaan nyata, bukan mencoba terlihat lucu di depan kamera. Pada akhirnya, cinta yang sehat bukan yang paling ramai kelihatannya, tapi yang paling tenang rasanya.
Apa pendapat kalian? Yuk diskusi di komentar.














Komentar