oleh

Taiwan Perkuat Kemitraan Pertanian Indonesia, Dukung Swasembada Pangan

-Berita-32 Dilihat
banner 468x60



JAKARTA — Taiwan dan Indonesia memperkuat kerja sama dalam bidang pertanian, khususnya melalui transfer pengetahuan dan teknologi untuk mendukung program swasembada pangan yang dijalankan oleh Presiden Prabowo Subianto. Kerja sama ini telah berlangsung selama 49 tahun sejak dimulainya program Taiwan Technical Mission (TTM) pada 1976.

Bruce Hung, Representative Taipei Economic and Trade Office (TETO), menjelaskan bahwa melalui program TTM, para ahli pertanian dari Taiwan datang langsung ke Indonesia untuk memberikan pembelajaran dan pendampingan kepada petani lokal. Kegiatan ini mencakup berbagai aspek seperti pemilihan benih yang baik, peningkatan produksi, hingga pengembangan jaringan pemasaran.

banner 336x280

Dalam sambutannya pada acara “Showcase of the Taiwan Technical Mission Achievements” di Energy Building, Jakarta, Kamis (27/11/2025), Bruce mengatakan bahwa kerja sama ini telah membawa banyak manfaat bagi para petani di berbagai daerah di Indonesia.

Program Pendampingan Petani

Salah satu program utama TTM adalah pendampingan petani di Karawang untuk meningkatkan produksi beras serta pengembangan produk sayuran. Pendampingan serupa juga dilakukan di Sumatra Utara untuk meningkatkan produksi bawang putih dan bawang merah.

Menurut Bruce, dengan semakin besar tantangan ketahanan pangan, Presiden Prabowo secara aktif mempromosikan kebijakan nasional tentang swasembada pangan. Sejalan dengan arah ini, Taiwan akan meluncurkan dua proyek baru bersama Indonesia pada tahun 2026 di Sulawesi Selatan dan Jawa Barat. Proyek-proyek ini akan fokus pada produksi benih jagung dan sayuran untuk memperkuat sistem pemasaran.

Di sisi lain, Bruce menyebutkan bahwa sebanyak 400.000 warga negara Indonesia kini tinggal, belajar, dan bekerja di Taiwan sebagai bagian dari hubungan kerja sama yang baik antar-pemerintah. Taiwan berkomitmen untuk menjadi mitra yang andal dalam pembangunan Indonesia.

Peran TTM di Karawang

Hanafi Chaniago, Staf Ahli DPR sekaligus mantan Kepala Dinas Pertanian Karawang, menjelaskan bahwa awalnya program TTM bertujuan untuk meningkatkan produksi beras di daerah yang dikenal sebagai lumbung padi nasional. Produktivitas beras pun berhasil meningkat hingga mencapai 850.000 ton per tahun, jauh melebihi kebutuhan Karawang sebesar 350.000 ton.

Setelah program tersebut selesai, TTM menanyakan kepada petani apa yang bisa dibantu. Petani berharap adanya pelatihan menanam sayuran karena saat itu sayuran harus didatangkan dari luar daerah. Pemda Karawang kemudian menyediakan lahan seluas 2 hektare untuk proyek pengembangan sayuran dan buah-buahan sekaligus pendampingan kepada petani.

Selain itu, TTM juga membangun green house, cold storage, serta menginisiasi pasar untuk menyerap produk sayuran. TTM juga memperkenalkan sayuran yang belum pernah dikenal petani yaitu okra. Untuk pemasarannya, TTM menghubungkan dengan supermarket seperti Papaya dan sejumlah supermarket di Jakarta.

Isu Pangan Menjadi Penting

Sementara itu, Wakil Ketua Komisi IV DPR RI Daniel Johan menyatakan bahwa isu pangan menjadi penting seiring dengan adanya perubahan iklim serta tantangan global. Ia khawatir jika persoalan pangan tidak menjadi perhatian serius, maka tidak ada lagi petani di masa depan.

Oleh karena itu, kerja sama Taiwan dengan Indonesia melalui pengiriman anak magang selama 2 tahun sangat membantu petani terutama di Kalimantan Barat dan Kebumen. “Peran Taiwan sangat penting di mana negara lain hanya bisa panen sekali, Indonesia menjadi tiga kali panen. Indonesia akan menjadi lumbung pangan dunia. Di sana ada peran strategis Taiwan,” katanya.

Pencapaian TTM

Beberapa pencapaian dari proyek TTM ditampilkan dalam kegiatan tersebut. Program yang sudah berjalan di antaranya peningkatan sistem sayur dan buah-buahan di Karawang pada 2019—2025 berhasil meningkatkan pendapatan petani hingga 240%, memperluas hingga 31 pasar, produksi sayur mendekati 80 ton per tahun, mengembangkan 50 hektare lahan dan mendampingi 108 petani.

Kemudian proyek di Sumatra Utara mengembangkan produksi serta pemasaran bawang putih dan bawang merah pada 2023—2025. TTM berhasil mengembangkan 120 hektare lahan pertanian serta meningkatkan pendapatan petani sebesar 93%. Produksi bawang merah meningkat dari 1,6 ton per ha menjadi 10 ton per ha. Begitu juga dengan hasil bawang putih meningkat dari 3,5 ton per ha menjadi 5 ton per ha.

Proyek di Sulawesi Selatan berlangsung pada 2021—2023 melalui program perluasan benih padi berkualitas. Program ini berhasil menyumbang 32% produksi benih padi berkualitas di daerah tersebut, memproduksi 4.765 ton benih padi pada 2023 serta meningkatkan pendapatan petani sebesar 24%. TTM berhasil mengembangkan 400 ha lahan dan membina sebanyak 300 petani.

Proyek di Bali diselenggarakan melalui one village one project yang berlangsung pada 2011—2014 di dua lokasi yakni Kabupaten Badung berupa pengembangan asparagus dan Kabupaten Bangli mengembangkan buah jeruk. TTM berhasil membudidayakan 1.271.570 bibit asparagus dengan total produksi mencapai 128.472 kg dan berhasil memproduksi jeruk mencapai 79.129 kg. Total produksi kombinasi asparagus dan sayuran mencapai 170.527 kg.

banner 336x280

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *