oleh

Kemenangan yang Menanti: Double Blessing Kompasiana Awards 2025

-Berita-35 Dilihat
banner 468x60



Malam itu, aku duduk bersila kaki di barisan tengah, di antara ratusan kompasianer, untuk menunggu pengumuman Awards 2025, sebuah momen paling ditunggu-tunggu para kompasianer. Di belakangku, duduk beberapa kompasianer senior seperti Andri Mastiyanto dan Ayah Tuah. Bang Andri adalah Kompasianer of The Years 2022, sedangkan Ayah Tuah adalah Best in Fiction 2023.

Pengumuman dimulai dengan kategori Pelestari, dengan kompasianer Jandris Sky sebagai juaranya. Pengambilan trofi diwakili oleh kompasianer Andri, karena kompasianer Jandris berhalangan datang. Kemudian, kategori Best in Passion, dengan kompasianer Raja Lubis sebagai pemenangnya. Di sini, aku sempat menoleh ke kompasianer Fery W yang duduk di belakangku, tampak tersenyum seolah menerima kekalahannya. Hehe.

banner 336x280

Berlanjut ke kategori Best in Fiction, dengan kompasianer Mochamad Iqbal. “Selamat ya Bang Iqbal”, kataku sebelum ia beranjak ke panggung. Lalu, tiba saatnya pengumuman Best in Opinion. Jujurly, aku deg-degan bukan main. Aku minta tolong Gebi, keponakan istriku, untuk merekam momen ini, seolah yakin bakal menang. Hehe.

Setelah para nominator Best in Opinion ditampilkan di layar, terdengar suara yang mengatakan, “Dan siapakah pemenang Best in Opinion? Selamat kepada Billy Steven Kaitjily.” Bersamaan dengan itu, foto dan namaku terpampang pada layar. Sontak, aku berdiri gembira, menyalami beberapa kompasianer di belakangku, lalu berjalan ke atas panggung. Aku juga menyalami kompasianer Andri, Iqbal, dan Raja Lubis yang duduk dekat panggung.

Aku berdiri persis di tengah panggung, menatap ratusan kompasianer yang bersorak gembira. Setelah trofi diberikan dan diabadikan lewat foto dan video, aku turun dari panggung, hingga lupa membawa kotak trofi berwarna biru tua. Haha. Aku kembali bergabung dengan kompasianer Andri, kompasianer Iqbal, dan kompasianer Raja Lubis. Kami berempat saling salam-salaman.

Pengumuman selanjutnya adalah kategori Best in Storytelling, yang dimenangkan oleh kompasianer Ire Rosana Ullail. Wah, benar dugaanku, bahwa Kak Ire lah juaranya. Aku sempat menyalaminya sebelum dia naik ke atas panggung. Sementara aku asyik ngobrol dengan para juara, tidak memperhatikan pengumuman berikutnya. Pengumuman berikut adalah Best in People’s Choice, yang ternyata diraih oleh aku juga.

Wow! Double blessing. Aku kembali naik ke panggung dengan wajah ceria, tapi bertanya-tanya dalam hati, “Benarkah ini untuk aku?” Jujurly, aku memang menargetkan Best in Opinion, karena aku menekuni kategori ini selama dua tahun terakhir. Tapi penghargaan “People’s Choice” sama sekali tidak kuharapkan, karena aku pendatang baru di , yang baru bergabung dua tahun.

Tapi karena ini adalah pilihan dari teman-teman kompasianer di seluruh Indonesia, aku menerimanya dengan ucapan syukur. Ternyata, aku sedekat itu di hati teman-teman kompasianer. Terima kasih, guys!

Perjalananku menuju panggung Kompasianival 2025, dimulai jauh sebelumnya. Aku resmi bergabung dengan sejak September 2023. Setahun kemudian (2024), aku masuk nominasi Best in Opinion. Mengingat ruang yang terbatas, aku tidak bercerita tentang pengalaman tahun 2024, tapi cuma bercerita tentang pengalaman masuk nominasi hingga jadi juara tahun 2025.

Jadi, bagaimana, kalian sudah siap membaca kisahku?

Tiga Tahap Perjalanan Menuju Awards 2025

Tahun ini, Kompasianival kembali hadir, dengan mengusung tema “Cerdas Digital, mandiri Finansial”. Kompasianival kali ini membawa pesan sederhana tapi penting, bahwa jadi kreator konten bukan cuma soal bikin konten, tapi juga tentang berpikir kritis, berbagi hal baik, dan membawa perubahan.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, ada satu momen yang paling ditunggu oleh setiap kompasianer di Kompasianival. Ya benar, penganugerahan Awards! Dilansir dari laman , Awards adalah ajang penghargaan yang diberikan kepada Kompasianer sepanjang tahun 2025 (, 6 November 2025). Pada tahun ini, ada 8 kategori Awards: Best in Storytelling, Best in Opinion, Best in Fiction, Best in Passion, Pelestari, People’s Choice, Best Community, dan Kompasianer of The Year.

Pada prinsipnya, ada tiga tahapan yang mesti dilalui oleh setiap kompasianer: Pengajuan nominasi, voting oleh komunitas, penilaian oleh dewan juri dan penghargaan.

1. Periode Pengajuan Nominasi: Antara Harap dan Cemas

“Apakah aku akan kembali masuk nominasi lagi?” Itu adalah pertanyaan kegelisahan pertama yang terlintas di benak ku, ketika membaca pengumuman pengajuan nominasi pada 6 September lalu. Memang, aku pernah masuk nominasi, tapi tidak menang. Kalau Mas Akbar Pitopang, peraih Kompasianer of The Year 2024, menyebut kondisiku tahun lalu sebagai “kemenangan yang tertunda”. Hehe.

Pada periode pengajuan (6-10 November) ini, aku berefleksi: Apakah tulisan-tulisanku sepanjang tahun 2025 cukup berkualitas, sehingga layak dinominasikan oleh teman-teman kompasianer. Dan, ternyata teman-teman kembali menominasikan aku pada kategori yang sama: Best in Opinion. Artinya, di mata mereka, tulisanku cukup berkualitas, ini penilaian mereka ya, bukan aku.

Aku enggak berani klaim bahwa tulisanku berkualitas, karena itu terlalu subjektif. Tapi kalau teman-teman kompasianer yang menilai, maka itu objektif. Jujurly, setelah diumumkan aku masuk nominasi, agak legah rasanya. Kenapa legah? Karena untuk masuk nominasi itu nggak mudah, aku mesti “bersaing” dengan teman-teman lain, berusaha merebut hati para kompasianer. Jadi, dengan masuk nominasi, sebenarnya sudah merupakan prestasi. Bayangkan, dari ribuan penulis yang aktif menulis di , cuma dipilih lima orang saja dalam kategori Best in Opinion.

Tahun ini, yang masuk nominasi di kategori Best in Opinion yaitu: Kompasianer Billy Steven Kaitjily, Merza Gamal, Junjung Widagdo, Mutia Ramadhani, dan Fitri Haryanti Harsono. Di satu sisi memang aku legah, setidaknya sudah masuk nominasi (baca: ada di titik aman), tapi tetap saja ada perasaan cemas. Apalagi, terbayang oleh pengalamanku tahun kemarin, yang gagal jadi pemenang.

2. Periode Voting: Merawat Kerendahan Hati di Tengah Kompetisi

“Apakah aku akan keluar sebagai pemenang Awards 2025?” Ini adalah pertanyaan kegelisahan keduaku, khususnya dalam periode voting (14-19 November). Aku sendiri tidak tahu, bahkan ragu menjadi pemenang, karena keempat temanku menurut penilaianku termasuk bagus, sehingga layak untuk menang.

Yang membuat aku ragu adalah karena aku menulis bukan berdasarkan keilmuanku, Teologi Kristen, tapi menulis tentang kebijakan publik dan tata kota yang berkelanjutan, khususnya dalam konteks Jakarta. Meskipun, sebenarnya, aku bisa saja mengaitkannya dengan keilmuanku, tapi aku memilih untuk tidak melakukannya. Karena seperti yang mentor akademikku bilang, “Tulislah apa yang minim engkau ketahui, di situ kita akan belajar sekaligus meningkatkan mutu akademik”.

Menulis tentang sesuatu yang tidak aku kuasai, tentunya, menjadi tantangan tersendiri, yang bisa bikin jantung berdegup kencang. Tapi justru di situ letak keindahannya. Dengan menulis sesuatu yang tidak aku kuasai, aku jadi belajar mengembangkan skill dan mengembangkan wawasan keilmuan.

Aku masih ingat, pada periode voting ini, mengizinkan para nominator untuk melakukan “kampanye” (promosi), baik melalui artikel di maupun di media sosial pribadi. Beberapa nominator, termasuk aku, tidak ingin melewatkan kesempatan ini. Aku pun menulis sebuah artikel promosi, berjudul “Riset, Kritik Konstruktif, dan Nominasi: Dua Tahun Menulis tentang Jakarta”. Artikel ini lebih ke refleksi tentang perjalananku menulis selama dua tahun, hingga masuk nominasi kali kedua, dan ajakan untuk voting para nominator.

Aku tidak mengajak teman-teman kompasianer untuk memvoting namaku, tapi mengajak mereka memvoting para nominator yang memang, secara tulisan, berkualitas. Aku, juga tidak mengajak teman-teman kompasianer memilih aku karena aku masih muda (umur 34 tahun dari generasi milenial). Aku senang dan bersyukur, karena beberapa kompasianer senior mendukungku, seperti kompasianer Hennie Oberst dan Yana Haudy.

Yang aku perlihatkan dalam artikel promosi tersebut, adalah kekonsistenanku selama dua tahun belakangan. Aku tidak mengada-ada, aku pernah menulis dengan tangan yang diinfus saat dirawat inap di rumah sakit. Kalau kalian ingin memastikannya, bisa tanyakan ke kompasianer Ria Agustina, salah satu nominator Best in Storytelling. Dia sempat menjengukku di RS Agung, Manggarai.

Dukungan dari keluarga dan orang-orang terdekat, sebenarnya, tak cukup membawaku masuk nominasi, apalagi sampai menang Awards. Bukan kebetulan aku berada dalam empat komunitas keren: Kopaja71, KOKOBER, JekoHijau, dan Bloggercrony Community (BCC), yang salah satu adminnya kompasianer Efa Butar Butar, calon Kompasianer of The Year 2026. Hehe. Kok Efa, iya Efa. Karena empat tahun terakhir ini, kita menyaksikan empat laki-laki yang menerima penghargaan Kompasianer of The Year. Tahun depan, kita ingin manyaksikan kompasianer Efa Butar Butar di panggung Kompasianival.

Kembali ke komunitas. Menurutku, peluang kemenangan itu juga datang dari komunitas. Sehingga tanpa berkomunitas, kemungkinan untuk menang kecil. Empat komunitas yang aku ikuti benar-benar support aku. Tak jarang, ketua dan anggotanya turut “memenangkan aku”. Jadi, pesanku untuk kalian yang ingin jadi juara di Kompasianival tahun depan, mulai sekarang pastikan diri kalian ada di dalam komunitas yang mendukung. Sebab, suka atau enggak suka, komunitas adalah kekuatan, bukan kompetisi semata.

3. Penilaian dan Malam Penghargaan: Klimaks yang Tak Terduga

“Bagaimana kalau namaku tidak dipanggil?” Ini adalah pertanyaan kegelisahan ketiga dan mungkin menjadi pertanyaan terakhir dalam perjalanan menuju Awards. Sehari sebelum pengumuman, aku sempat menelepon beberapa kompasianer untuk sharing perasaan deg-degan, di antaranya kompasianer Jandris Sky, Junjung Widagdo, dan Ire Rosana Ullail. Dalam obrolan itu, salah satu hal yang kami bahas adalah, cara pengelola menghubungi para nominator. Kompasianer Ire, Jandris, Junjung dihubungi via WhatsApp, sedangkan diriku cuma dihubungi via email.

“Jangan-jangan, bukan aku pemenangnya,” pikirku. Istriku, Ani Mulyani, bilang kalau enggak menang enggak papa. Dia tetap mendukungku. Sementara itu, kompasianer Junjung dan Ire meyakinkanku, bahwa aku bakal menang. Aku bisa melihat kebesaran hati mereka, khususnya kompasianer Junjung yang merelakanku seandainya aku menang. Tahun depan, giliranmu, ya Pak. Hehe.

Puncak dari kegelisahanku adalah pada malam penghargaan Awards, yang berlokasi di M Block Space. Hari itu, aku tiba di lokasi agak siang, melakukan registrasi, dan mengambil merchandise yang kupesan dan yang kompasianer Irfan Fandi titipkan. Aku bertemu dengan banyak kompasianer dari berbagai kota, bukan cuma dari Jabodetabek saja, di antaranya kompasianer Yayuk dari Malang, Jujun, Agus Hendrawan yang datang membawa istrinya, Bunda Ditta, Diantika dari Bandung, Airani dari Kelapa Gading, Dina dari Jaksel, Zarna, Budi Susilo, Jhon Purba yang datang dengan anaknya, dan lain-lain. Senang sekali bisa bertegur sapa dengan mereka.

Jelang pengumuman, aku semakin gelisah, antara harap dan pasrah. Memang, sebelumnya beberapa teman kompasianer sudah meyakinkanku bahwa aku bakal menang, tapi tetap saja aku gelisah. Berharap menang kan enggak papa, ya. Haha Singkat cerita, tibalah pada momen pengumuman Best in Opinion. Ketika foto dan namaku terpampang di layar besar di atas panggung, sontak aku berdiri dan sedikit melakukan selebrasi, yaitu memberi tos ke beberapa kompasianer sebelum naik ke panggung.

Jujurly, ini adalah kali pertamaku naik ke atas panggung untuk menerima penghargaan. Ketika aku cerita momen ini ke ibuku, dia senang dan bersyukur sekali. Malam itu, aku menerima dua trofi sekaligus: Best in Opinion dan People’s Choice. Best in Opinion adalah penghargaan atas kekonsistenanku menyampaikan ulasan dan gagasan, termasuk kritik konstruktif khususnya dalam konteks pembangunan Jakarta. Sedangkan People’s Choice adalah penghargaan dari teman-teman kompasianer seluruh Indonesia.

Kesimpulan

Perjalanan menuju dua penghargaan di Kompasianival 2025 mengajarkanku, bahwa kegelisahan adalah bagian tak terpisahkan dari setiap proses pencapaian. Dari periode nominasi, voting, hingga malam penganugerahan, setiap tahap diwarnai pertanyaan: “Apakah aku layak?” Namun, justru kegelisahan itulah yang membuatku tetap rendah hati, terus belajar, dan menghargai proses.

Kemenangan bukan tentang menjadi yang terbaik, tetapi tentang konsistensi, keberanian keluar dari zona nyaman, dan dukungan komunitas yang tulus. Dua trofi yang kubawa pulang bukan milikku semata, tetapi milik keluarga, mentor, dan empat komunitas luar biasa yang selalu mendukungku: Kopaja71, KOKOBER, JekoHijau, dan Bloggercrony Community.

Untuk teman-teman nominator Best in Opinion yang belum menang tahun ini: Merza Gamal, Junjung Widagdo, Mutia Ramadhani, dan Fitri Haryanti Harsono, kalian semua luar biasa. Masuk nominasi dari ribuan penulis aktif di sudah merupakan prestasi yang patut dibanggakan. Jangan biarkan kekalahan tahun ini menghentikan langkah kalian. Seperti yang Mas Akbar Pitopang bilang tentang kondisiku tahun lalu: “kemenangan yang tertunda”. Teruslah menulis, teruslah konsisten, dan teruslah berkarya. adalah rumah bagi semua penulis, dan panggung Kompasianival akan selalu menunggu mereka yang tak pernah menyerah.

Tahun depan, giliran kalian berdiri di atas panggung, menatap ratusan kompasianer yang bersorak gembira. Sampai jumpa di Kompasianival 2026! Akhir kata, terima kasih sebesar-besarnya kepada Tim Pengelola yang mempercayakanku menerima penghargaan ini. Beberapa dari mereka cukup aku kenal seperti Mas Kevin, Mas Kamil, Mbak Gilang, Mas Nurulloh, dan Pak Heru Margianto, COO (sekarang).

banner 336x280

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *