oleh

Densus 88 Edukasi Bahaya Intoleransi kepada Pelajar Pesantren di Sorong

-Berita-30 Dilihat
banner 468x60

Pembinaan Wawasan Kebangsaan di Pondok Pesantren Hidayatullah

Pembinaan wawasan kebangsaan yang digelar oleh Densus 88 Anti Teror Satgaswil Papua Barat menjadi langkah penting dalam memperkuat pemahaman generasi muda terhadap nilai-nilai kebangsaan dan anti-radikalisme. Kegiatan ini dilaksanakan di lingkungan pendidikan keagamaan, khususnya di Pondok Pesantren Hidayatullah Kabupaten Sorong, pada Selasa (2/12/2025). Tema utama dari acara tersebut adalah “Pencegahan Intoleransi dan Radikalisme di Pondok Pesantren”.

Kepala Lembaga Pendidikan Integral Hidayatullah (LPIH) Kabupaten Sorong, Ustadz Syarif, menyampaikan bahwa program ini sangat penting sebagai benteng awal dalam mencegah penyebaran paham menyesatkan yang berpotensi mengganggu generasi muda. Ia mengungkapkan rasa terima kasih atas kehadiran Densus 88 yang memberikan pencerahan dan pemahaman penting bagi para santri.

banner 336x280

“Kami sangat berterima kasih atas kehadiran Densus 88, memberikan pencerahan dan pemahaman penting bagi para santri,” ujarnya.

Pihak pesantren juga menunjukkan komitmen untuk menjunjung moderasi beragama, wawasan kebangsaan, serta pembentukan karakter santri yang cinta tanah air. Hal ini menjadi dasar dalam menjaga stabilitas dan harmonisasi antar umat beragama di wilayah tersebut.

Peran Media Sosial dalam Penyebaran Ideologi Radikal

Menurut Katim Pencegahan Anti Teror Satgaswil Papua Barat, IPDA M Arfa Jaya, penyebaran paham radikalisme kini tidak lagi bersifat terbuka seperti dulu. Sebaliknya, mereka menggunakan ruang digital yang sulit diawasi dan lebih halus dalam melakukan penetrasi.

Media sosial menjadi jalur paling mudah digunakan untuk mempengaruhi pelajar, terutama melalui konten-konten yang dikemas menarik dan disebarkan secara masif. Banyak pelajar tidak menyadari bahwa video motivasi, ajakan diskusi, hingga tautan kajian yang terlihat biasa saja bisa berisi muatan ideologi menyimpang.

“Oleh karena itu, para santri harus mampu mendeteksi hal-hal seperti itu,” ujarnya.

Arfa menambahkan bahwa kelompok penyebar paham radikal memanfaatkan celah literasi digital yang masih rendah di kalangan remaja. Ia menyoroti bahaya grup percakapan tertutup di platform digital yang menawarkan kajian eksklusif atau ajakan menjauhi lingkungan sekolah dan pesantren.

“Biasanya mereka mulai dari ajakan sederhana melalui grup WA, Telegram, atau akun tertentu. Lama-lama diarahkan pada paham yang bertentangan dengan nilai kebangsaan dan ajaran agama yang benar,” tambahnya.

Pentingnya Literasi Digital dan Dialog Terbuka

Arfa menekankan pentingnya dialog terbuka dengan guru, ustadz, dan orang tua apabila menemukan konten atau ajakan yang mencurigakan. Kemampuan literasi digital menjadi benteng utama dalam mencegah generasi muda terseret arus radikalisme online.

“Kuncinya adalah bijak bermedia sosial. Jangan mudah percaya, jangan langsung mengikuti, dan selalu cek sumbernya. Santri harus memiliki filter yang kuat agar tidak mudah dimasuki paham yang menyesatkan,” ujarnya.

Ipda Arfa didampingi Briptu Halim Hanafi, dan Briptu Iqro Anggi Permadani turut memberikan materi interaktif tentang ciri-ciri penyebaran paham intoleran, pola perekrutan, hingga langkah pencegahan sejak dini.

Strategi Pencegahan yang Dilakukan

Dalam acara ini, para peserta diajak untuk lebih waspada terhadap ancaman ideologi radikal yang bisa muncul dari berbagai sumber. Para santri diberikan pemahaman tentang bagaimana cara mengenali indikasi penyebaran paham intoleran, termasuk pola perekrutan yang biasa digunakan oleh kelompok ekstrem.

Selain itu, peserta juga diajarkan langkah-langkah pencegahan sejak dini, seperti meningkatkan kemampuan analisis terhadap informasi yang diterima, serta membangun kesadaran akan pentingnya menjaga nilai-nilai kebangsaan dan agama yang benar.


banner 336x280

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *