Ketika Alam Menyampaikan Pesannya
Akhir November hingga awal Desember 2025 menjadi babak paling kelam dalam sejarah ekologis Sumatera. Hujan ekstrem yang dipicu siklon tropis Senyar menyapu pulau itu tanpa memberi ruang bernapas. Sungai-sungai meluap, tanah-tanah yang rapuh longsor, desa-desa hanyut.
Banyak warga masih hilang, dan akses ke banyak wilayah terputus karena ratusan jembatan runtuh dan jalan-jalan utama terbelah. Angka korban tewas terus berubah, dari sebelumnya dilaporkan 753 menjadi 708 jiwa. Angka-angka ini bukan sekadar statistik. Ia adalah wajah duka yang belum kering. Ia adalah pengingat bahwa kita telah berjalan terlalu jauh dari keseimbangan yang seharusnya.
Serakanomics: Ruang Kosong yang Kita Biarkan Tumbuh
Sebagaimana saya tuliskan dalam artikel sebelumnya, serakanomics adalah cara pikir ekonomi yang membiarkan kerakusan menjadi kebiasaan. Ia bukan teori; ia jejak yang kita lihat langsung di Sumatera.
Serakanomics tampak dalam:
* hutan-hutan yang habis oleh konsesi
* lubang tambang yang menganga tanpa reklamasi
* sungai yang menyempit oleh sedimentasi dan limbah
* perizinan yang mengejar angka, bukan daya dukung alam
Update Reuters memperkuat hal ini: banyak warga Sumatera menyebut “tangan-tangan jahil” yang merusak hutan sebagai penyebab utama. Mereka tidak menyalahkan hujan — mereka menunjuk pada kerusakan ekologis yang terjadi jauh sebelum badai datang. Kerusakan ini menumpuk pelan-pelan, menjadi serakan—kekacauan ekologis yang akhirnya kembali kepada kita dalam bentuk bencana besar.
Al-Qur’an telah mengingatkan:
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut karena perbuatan tangan manusia, agar Allah merasakan kepada mereka sebagian dari akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali.”
(QS. Ar-Rum: 41)
Ini bukan ayat ancaman. Ini adalah cermin kenyataan.
Ekonomi Islam: Kembali pada Jalan Amanah
Di tengah kepedihan ini, Ekonomi Islam memberi arah yang lebih jernih. Ia mengembalikan manusia pada identitas dasarnya: khalifah, penjaga bumi bukan pemilik yang bebas merusak. Prinsip-prinsipnya sederhana namun revolusioner:
- Larangan fasd – tidak membuat kerusakan.
- Qana’ah – rasa cukup, bukan rasa rakus.
- Keadilan distribusi – agar kekayaan tidak bertumpuk pada segelintir pelaku industri.
- Maslahah dan tawazun – manfaat yang menjaga manusia sekaligus alam.
Rasulullah SAW bersabda:
“Sesungguhnya dunia ini hijau dan indah, dan Allah menjadikan kalian sebagai khalifah di dalamnya. Maka Dia akan melihat bagaimana kalian berbuat.”
(HR. Muslim)
Jika bumi ini titipan, mengapa kita memperlakukannya seperti barang sekali pakai?
Amanah dalam Tata Kelola: Lebih dari Sekadar Instrumen
Ekonomi Islam bukan sekadar zakat, sedekah, wakaf, atau sukuk hijau. Semua itu hanyalah instrumen. Yang terpenting adalah tata kelola yang amanah. Amanah itu mengambil wujud seperti:
- wakaf lahan untuk hutan lindung dan daerah tangkapan air
- zakat untuk rehabilitasi DAS, energi bersih, dan mitigasi bencana
- audit syariah yang mengikat sektor ekstraktif agar tidak merusak
- tata ruang berbasis maqashid yang menghadirkan hifz al-bi’ah (perlindungan lingkungan) sebagai prioritas kebijakan
Tanpa amanah, instrumen hanya menjadi label. Dengan amanah, ia menjadi solusi.
Budaya Sosial: Mengembalikan Rasa Cukup, Menumbuhkan Rasa Saling Menjaga
Tidak ada transformasi ekonomi tanpa transformasi budaya. Ekonomi Islam menghidupkan kembali qana’ah, rasa cukup yang membuat manusia tidak selalu ingin lebih. Ia menumbuhkan solidaritas ekologis: bahwa merawat bumi bukan isu teknis, tapi ibadah.
Rasulullah SAW bersabda:
“Tidaklah seorang Muslim menanam pohon atau menabur benih, lalu burung, manusia, atau hewan memakan darinya, kecuali menjadi sedekah baginya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam agama ini, bahkan pohon yang kita tanam menjadi catatan amal. Maka bagaimana mungkin merusaknya tidak menjadi catatan pula?
Harapan di Tengah Luka
Bencana Sumatera 2025 mengajarkan banyak hal. Tentang rapuhnya tata kelola. Tentang panjangnya jejak serakanomics. Tetapi juga tentang besarnya peluang untuk memperbaiki. Update Reuters menunjukkan bahwa dunia memperhatikan apa yang terjadi di negeri ini. Dan mungkin itu pertanda bahwa kita juga harus mulai memperhatikan diri kita sendiri.
Penutup: Jalan Amanah Menuju Keberlanjutan
Bencana ekologis Sumatera bukan sekadar kabar buruk. Ia adalah peringatan. Ia adalah cermin. Ia adalah ajakan untuk kembali ke jalan amanah: menurunkan kerakusan, menaikkan kepedulian, dan membangun ulang relasi kita dengan alam.
“Bencana ekologis Sumatera adalah buah dari serakanomics yang melahirkan serakan. Ekonomi Islam hadir sebagai jalan amanah untuk mengubah kerakusan menjadi keberlanjutan.”
Ini bukan sekadar ajakan moral. Ini adalah kebutuhan peradaban.




















Komentar