oleh

Telat Makan Bukan Penyebab Utama GERD, Dokter Ungkap Fakta Mengejutkan di Balik Asam Lambung

-Kesehatan-4 Dilihat
banner 468x60

JAKARTA, (SOROT1.ID) — Sebagian besar masyarakat, khususnya para pekerja kantoran dengan jadwal padat, kerap menganggap telat makan sebagai pemicu utama penyakit asam lambung atau Gastroesophageal Reflux Disease (GERD). Namun, anggapan umum tersebut ternyata tidak sepenuhnya tepat.

Menurut Dr. dr. Eva Jeumpa Soelaeman, Sp.A(K), konsultan Gastroenterohepatologi Anak di Eka Hospital MT Haryono, telat makan bukanlah penyebab langsung terjadinya GERD. Secara medis, GERD dipicu oleh melemahnya fungsi otot katup (sfingter) antara lambung dan kerongkongan, sehingga asam lambung mudah naik ke atas.

banner 336x280

Kendati bukan penyebab langsung, telat makan dan kebiasaan pola makan yang tidak teratur tetap dapat memicu peningkatan produksi asam lambung yang berujung pada rasa tidak nyaman di perut.

Bahaya Memikirkan Makanan Terlalu Sering

Dr. Eva menjelaskan bahwa proses produksi asam lambung sangat dipengaruhi oleh faktor psikologis, salah satunya adalah pikiran. Ketika seseorang mulai membayangkan atau memikirkan makanan, otak secara otomatis akan merespons dengan menyiapkan organ pencernaan.

Akibatnya, lambung mulai memproduksi cairan asam sebagai persiapan menerima makanan.

“Jadi setiap otak kita berpikir makanan, asam lambungnya keluar,” ujar Dr. Eva dalam sebuah media briefing di kawasan Blok M, Jakarta Selatan.

Oleh karena itu, kebiasaan terus-menerus membayangkan menu makanan saat masih sibuk bekerja atau beraktivitas justru membuat lambung terus menghasilkan asam tanpa adanya makanan yang masuk untuk dicerna.

Dampak Jadwal Makan yang Berubah-Ubah

Selain faktor pikiran, tubuh manusia memiliki jam biologis (body clock) yang terbiasa mengikuti rutinitas harian. Masalah pada lambung umumnya timbul ketika jadwal makan seseorang berubah-ubah secara drastis setiap harinya.

Sebagai contoh, hari ini makan pukul 11.00 siang, keesokan harinya bergeser menjadi pukul 13.00, lalu hari berikutnya baru makan pukul 15.00 sore.

Dalam situasi ini, lambung telanjur memproduksi asam sesuai jadwal kebiasaan lama, namun makanan yang ditunggu tidak kunjung datang. Kondisi inilah yang sering kali memicu keluhan seperti gastritis atau radang lambung.

Konsistensi Pola Makan Lebih Penting

Menariknya, Dr. Eva mengungkapkan bahwa tidak sarapan sebenarnya bukanlah masalah besar, asalkan dilakukan secara konsisten. Tubuh manusia memiliki kemampuan beradaptasi dengan pola yang sudah terbangun secara rutin, termasuk bagi mereka yang terbiasa hanya mengonsumsi segelas susu di pagi hari dan baru makan kembali pada sore hari.

Meski demikian, melewatkan sarapan bagi sebagian orang berisiko memicu rasa lapar berlebih yang membuat mereka terus memikirkan makanan, sehingga produksi asam lambung tetap meningkat.

Di sisi lain, asupan energi tetap harus dijaga agar tubuh dapat beraktivitas secara optimal.

Dr. Eva mengingatkan agar masyarakat menghindari kebiasaan makan terlalu banyak maupun terlalu sedikit. Dalam jangka panjang, porsi makan yang terlalu sedikit dapat mengecilkan kapasitas lambung, memicu kekurangan energi, kelelahan, hingga meningkatkan risiko hipoglikemia serta penurunan massa otot (sarkopenia) pada lansia.

Menjaga pola makan yang cukup, seimbang, dan konsisten dinilai jauh lebih esensial dalam menjaga stabilitas asam lambung ketimbang sekadar terpaku pada jam makan tertentu. (Red)

Editor : Ramdhan

banner 336x280

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *