PAMEKASAN,
Dari kejauhan, seorang pria memakai sarung dan kaus hitam terlihat sibuk di sudut selatan Pemakaman Ronggo Sukowati di Kelurahan Kolpajung, Kecamatan Pamekasan, Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur.
Dia adalah Masriyadi atau dikenal dengan Aba Yadi, juru kunci makam Raja Pertama Pamekasan, Pangeran Ronggosukowati yang wafat pada tahun 1624 silam. Laki-laki berusia 55 tahun itu tampak sibuk meramu cairan warna putih agak pekat.
“Ini cairan obat pemusnah rumput dan lumut,” katanya sambil mempersilakan duduk, Sabtu (15/11/2025).
Di gubuk yang terbuat dari bambu, Aba Yadi biasa melepas lelah setiap hari. Gubuk itu kurang lebih berukuran 3×3 meter. Bangunannya mulai condong ke arah timur, bahkan sebagian tiang bambu mulai miring.
“Di sinilah tempat saya selama sepuluh tahun terakhir di lokasi makam,” tuturnya.
Dengan mata berbinar, ia antusias membuka cerita. Rupanya, juru kunci adalah warisan keluarga dari kakek buyut yang diwariskan ke orangtua. Ia menjadi juru kunci menggantikan pamannya, Nafi sejak meninggal sekitar 10 tahun lalu.
“Juru kunci ini dari kakek buyut, turun ke kakek lalu ke ayah saya. Setelah orangtua meninggal diganti paman saya,” katanya.
Sejak tahun 2015, ia diangkat juru kunci oleh Dinas Kepemudaan, Olahraga, Kebudayaan dan Pariwisata (Disporabudpar) waktu itu. Setiap hari ia membersihkan makam Raja Ronggosukowati hingga merawat semua area pemakaman seluas 1 hektare.
Badannya harus kuat, setiap hari ia melayani peziarah yang datang. Bahkan, tak mengenal lelah mendampingi penguburan baru setiap waktu.
“Setiap waktu ada penguburan. Saya harus tahu agar bisa membantu jika ada keluarga dari jauh datang berziarah,” katanya.
Di lokasi itu, tidak hanya jadi pemakaman keturunan kerajaan, tapi juga untuk masyarakat setempat. Pria yang pernah jadi penggali kubur itu hanya dibayar Rp 400.000 setiap awal bulan. Bayaran itu tidak cukup untuk menghidupi empat anaknya.
“Tentu tidak cukup bayaran itu untuk kebutuhan keluarga. Tapi saya ikhlas untuk melanjutkan pengabdian keluarga saya kepada raja,” ucapnya.
Bayaran itu didapatkan juru kunci sejak tahun 2014. Satu tahun sebelum ia menggantikan pamannya. Sejak 2014 dibayar Rp 200.000 per bulan. Pada tahun 2022 menjadi Rp 350 per bulan. Baru sejak tahun lalu bayaran naik menjadi Rp 400.000 per bulan.
Bahkan, ia mengandalkan pemberian dari peziarah untuk merawat fasilitas Makam Ronggosukowati setiap bulan.
“Saya harus menabung dari pemberian peziarah untuk memperbaiki fasilitas makam yang rusak. Karena tidak ada biaya lain selain gaji,” katanya.
Setiap bulan ia harus mengganti beberapa fasilitas yang rusak, mulai lampu, kabel dan obat pembasmi rumput saat musim hujan.
“Saya tetap yakin semua ini pasti ada jalan. Di samping itu, saya harus bisa menghidupi keluar meski tertatih,” tuturnya.
Kesulitan ekonomi diakuinya sudah biasa. Tapi ketika dikakukan dengan ikhlas semua akan terasa lebih ringan. Roda kehidupan dia jalani penuh semangat. Hingga ia mampu menyekolahkan empat anaknya dan sebagian sudah berkeluarga.
Dulu, pemeliharaan makam Raja Ronggosukowati dilakukan Yayasan Ronggosukowati. Sejak tahun 2014 diambil alih Disporabudpar dan beralih ke Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud). Bahkan, beberapa tahun lalu ada beberapa juru kunci di setiap zona di area makam.
Namun, lambat laun semua mundur. Kini, tinggal Aba Yadi seorang diri yang bertahan hidup di lokasi makam.
“Apa pun yang terjadi saya ikhlas berada di sini,” imbuhnya.
Aba Yadi menyampaikan, Pangeran Ronggosukowati adalah raja pertama di Pamekasan sejak tahun 1530 Masehi dan wafat pada tahun 1624 Masehi. Saat itu, kekuasaan diganti putranya dari selir, Pangeran Purboyo.
Sebab keturunannya, Pangeran Jimat masih kecil untuk meneruskan pemerintahannya.














Komentar