oleh

Pelatihan Bahasa Isyarat TLM D4 UMP Purwokerto, Bentuk Tenaga Kesehatan Inklusif

banner 468x60

PURWOKERTO, (SOROT1.ID) — Program Studi Teknologi Laboratorium Medis (TLM) D4 Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) kembali menunjukkan komitmennya dalam menghadirkan inovasi pendidikan kesehatan yang berorientasi pada kebutuhan masyarakat. Salah satu langkah strategis yang dilakukan adalah pelaksanaan Pelatihan Bahasa Isyarat Indonesia (BISINDO) bagi mahasiswa, yang bertujuan untuk membekali mereka dengan kemampuan komunikasi yang efektif kepada pasien berkebutuhan khusus, khususnya teman tuli.

Kegiatan ini dilaksanakan di gedung Prof Baedhowi dan mengusung tema “Mewujudkan Mahasiswa TLM D4 UMP sebagai Tenaga Kesehatan Masa Depan yang Inklusif dalam Pelayanan Kesehatan”. Pelatihan ini dilakukan dalam kerja sama dengan komunitas Batir Isyarat Banjoemas, yang turut serta menyediakan narasumber dan materi pembelajaran.

banner 336x280

Ketua Program Studi TLM D4 UMP, Retno Sulistiyowati, menjelaskan bahwa pelayanan kesehatan yang berkualitas tidak hanya ditentukan oleh kompetensi teknis tenaga kesehatan, tetapi juga kemampuan berkomunikasi dengan seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali.

Ia menekankan pentingnya kesadaran dan keterampilan mahasiswa dalam berkomunikasi dengan teman tuli sebagai bagian dari upaya menciptakan pelayanan kesehatan yang inklusif.

“Setiap pasien memiliki hak yang sama untuk memperoleh pelayanan kesehatan yang nyaman, aman, dan mudah diakses,” ujarnya.

Menurut Retno, komunikasi menjadi aspek fundamental dalam dunia pelayanan kesehatan, karena berpengaruh langsung pada proses pemeriksaan, diagnosis, hingga edukasi pasien.

Namun, hambatan komunikasi masih menjadi tantangan bagi kelompok disabilitas, termasuk penyandang tuli. Hal ini menjadi alasan utama TLM D4 UMP menghadirkan pelatihan bahasa isyarat sebagai bekal kompetensi tambahan bagi mahasiswa.

Dosen pengampu mata kuliah Komunikasi, Fuad Minan Zuhri, menjelaskan bahwa kegiatan ini lahir dari kesadaran bahwa tenaga Teknologi Laboratorium Medis akan berhadapan dengan pasien dari berbagai latar belakang dan kondisi.

Ia menilai bahwa pelatihan bahasa isyarat menjadi salah satu inovasi pembelajaran yang sangat jarang diterapkan dalam pendidikan Teknologi Laboratorium Medis di Indonesia.

“Sepengetahuan kami, pelatihan Bahasa Isyarat Indonesia yang terintegrasi dalam pembelajaran Program Studi Teknologi Laboratorium Medis masih sangat jarang dilakukan, bahkan berpotensi menjadi salah satu yang pertama di Indonesia,” jelas Fuad.

Ia menambahkan bahwa inisiatif ini merupakan bentuk komitmen TLM D4 UMP dalam menghasilkan lulusan yang tidak hanya unggul dalam kompetensi laboratorium, tetapi juga memiliki kemampuan komunikasi inklusif yang dibutuhkan di masa depan.

Fuad menekankan bahwa pelayanan kesehatan yang berkualitas tidak hanya mampu mendengar hasil pemeriksaan, tetapi juga mampu memahami setiap pasien yang dilayani. Oleh karena itu, pelatihan bahasa isyarat menjadi penting dalam meningkatkan kualitas layanan kesehatan yang lebih inklusif.

Pelatihan ini menghadirkan narasumber dari Batir Isyarat Banjoemas, Aulia Fikra Ayu Laraswati, S.Ds., yang memberikan materi mengenai budaya tuli, etika berinteraksi dengan komunitas tuli, serta praktik langsung penggunaan Bahasa Isyarat Indonesia (BISINDO) dalam situasi pelayanan kesehatan.

Aulia mengapresiasi langkah progresif yang dilakukan oleh Program Studi TLM D4 UMP dalam menghadirkan pendidikan yang inklusif bagi mahasiswa kesehatan.

Ia berharap Prodi TLM UMP dapat melahirkan tenaga kesehatan yang mampu berbahasa isyarat sehingga dapat berkomunikasi dengan pasien tuli di masa depan.

Selama pelatihan berlangsung, mahasiswa tampak antusias mengikuti setiap sesi, mulai dari pengenalan alfabet isyarat, kosakata dasar pelayanan kesehatan, hingga simulasi komunikasi antara tenaga kesehatan dan pasien tuli. Suasana interaktif yang terbangun tidak hanya memberikan pengalaman belajar yang bermakna, tetapi juga meningkatkan pemahaman mahasiswa mengenai pentingnya pelayanan kesehatan yang setara dan aksesibel.

Seorang peserta, Azka Azaliyyah, mengaku memperoleh wawasan baru yang sangat berharga melalui kegiatan tersebut. Ia menilai pelatihan bahasa isyarat memberikan pengalaman dan wawasan baru, sehingga mahasiswa menjadi lebih memahami pentingnya komunikasi dengan teman-teman tuli.

“Harapannya, kegiatan seperti ini dapat terus diadakan agar semakin banyak mahasiswa yang memiliki kesadaran serta keterampilan dalam menciptakan lingkungan yang ramah dan aksesibel bagi semua kalangan,” tuturnya.

Pelatihan bahasa isyarat ini menjadi bukti nyata bahwa TLM D4 UMP tidak hanya berfokus pada penguasaan teknologi dan keterampilan laboratorium medis, tetapi juga menanamkan nilai-nilai kemanusiaan, empati, dan pelayanan yang berkeadilan. Kompetensi tersebut menjadi modal penting bagi lulusan untuk menghadapi tantangan dunia kesehatan yang semakin kompleks dan beragam.

Sebagai salah satu program studi kesehatan yang terus berkembang, Program Studi Teknologi Laboratorium Medis D4 UMP berkomitmen menghadirkan pembelajaran inovatif yang selaras dengan kebutuhan masyarakat dan perkembangan pelayanan kesehatan modern.

Melalui berbagai program unggulan, termasuk pelatihan Bahasa Isyarat Indonesia (BISINDO), TLM D4 UMP terus mempersiapkan lulusan yang tidak hanya kompeten secara akademik dan profesional, tetapi juga mampu menjadi agen perubahan dalam mewujudkan pelayanan kesehatan yang inklusif bagi seluruh masyarakat. (***)

Editor : Ramadhan

banner 336x280

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *