Proses Penjaringan Calon Ketua KONI Kalbar
Penjaringan calon Ketua Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Provinsi Kalimantan Barat resmi dimulai pada 3 November dan akan berakhir pada 24 November mendatang. Hingga pertengahan masa pendaftaran, persaingan memperebutkan kursi tertinggi olahraga Kalbar mulai mengerucut pada dua nama besar: Daud Cino Yordan dan Syarif Melvin Alkadrie. Keduanya sama-sama merupakan Anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) asal Kalbar.
Berdasarkan informasi dari panitia penjaringan, hingga saat ini hanya dua nama tersebut yang telah mengambil berkas pendaftaran sebagai kandidat pengganti Ketua KONI Kalbar, Fachrudin Siregar, yang segera mengakhiri masa jabatannya.
Tim dari Daud Cino Yordan lebih dulu mengambil berkas pendaftaran di Kantor KONI Kalbar pada 10 November, disambut langsung oleh Sekretaris Tim Penjaringan dan Penyaringan, Edy Firman. Sementara tim Syarif Melvin Alkadrie menyusul pada 12 November, menandakan keseriusannya untuk maju dalam kontestasi ini.
Profil Kandidat yang Bersaing
Kedua figur ini dikenal luas di Kalimantan Barat. Daud Cino Yordan, petinju profesional yang masih aktif di ring, memiliki rekam jejak panjang di dunia olahraga. Ia tidak hanya dikenal sebagai atlet, tetapi juga sebagai tokoh yang sangat dekat dengan masyarakat olahraga di daerah ini.
Sementara Syarif Melvin Alkadrie, yang juga Sultan Pontianak, dikenal memiliki pengaruh besar dalam kepemimpinan sosial dan budaya di daerah. Meski kiprahnya di bidang olahraga tidak sebesar Daud, keikutsertaannya memberi warna tersendiri bagi dinamika pemilihan Ketua KONI Kalbar.
Tantangan Besar Bagi Ketua KONI Terpilih
Persaingan keduanya mendapat perhatian luas dari masyarakat pecinta olahraga. Jepri, salah satu pemerhati olahraga Kalbar, menilai tantangan terbesar bagi Ketua KONI terpilih adalah komitmen berkorban demi kemajuan atlet dan cabang olahraga.
“Siapapun yang jadi, harus benar-benar jadi wakil suara atlet. Mengurus olahraga itu butuh pengorbanan besar. Waktu, tenaga, pikiran, bahkan materi,” ujarnya, Rabu (12/11).
Ia menyoroti kendala klasik yang masih menghantui dunia olahraga Kalbar, terutama soal pendanaan. “Setiap kali atlet mau berangkat ke kejuaraan, selalu terkendala biaya. Apalagi untuk olahraga beregu, biayanya besar. Kadang atlet sampai mencari dana sendiri,” jelasnya.
Karena itu, lanjut Jepri, Ketua KONI ke depan harus siap berkorban, tidak hanya dalam pemikiran tetapi juga finansial. “Kalau hanya mengandalkan dana dari Pemprov, tidak akan cukup. Ketua KONI mesti kreatif mencari dukungan dan punya semangat juang,” katanya.
Pentingnya Komitmen dan Visi Jangka Panjang
Ia juga menekankan pentingnya pemimpin cabang olahraga (cabor) yang benar-benar mencintai bidangnya. “Kalau ketua cabor tidak punya cinta dan komitmen, cabornya bisa mati suri. Event olahraga itu tidak bisa bergantung pada anggaran KONI semata,” tegasnya.
Menurutnya, Kalbar perlu belajar dari provinsi lain yang berhasil membangun prestasi, seperti Jawa Barat yang tiga kali berturut-turut menjadi juara umum PON. “Mereka bisa sukses karena pembinaannya serius, bahkan atletnya didampingi tim psikologis untuk menjaga mental sebelum bertanding. Kalbar harus belajar dari situ,” kata Jepri.
Ia berharap Ketua KONI Kalbar yang terpilih nanti mampu membawa perubahan besar. “Kalau Ketua KONI benar-benar mau berkorban dan punya visi pembinaan jangka panjang, saya yakin olahraga Kalbar bisa lebih maju dan berprestasi,” tutupnya.














Komentar