oleh

Cerita Terbuka Usai Gempa Hebat di SMAN 72

-Berita-23 Dilihat
banner 468x60



JAKARTA — Di balik hiruk-pikuk penyelidikan ledakan di SMAN 72 Jakarta, ada kisah yang muncul perlahan, seperti suara lirih yang baru terdengar setelah kepulan asap mereda. Cerita ini berasal dari ruang kelas, dari catatan pribadi seorang remaja yang kini menyandang status anak berkonflik dengan hukum (ABH), dan dari para penyidik yang berusaha menghubungkan keping-keping peristiwa yang membuat 96 orang luka pada Jumat siang itu.

Eks Kepala Densus 88 Antiteror, Komjen Marthinus Hukom, mengungkapkan bahwa terduga pelaku ledakan sempat melaporkan tindakan perundungan kepada pihak sekolah, namun laporan tersebut diduga tidak mendapat respons. “Itu kan dari hasil investigasi anak-anak penyidik di lapangan ya. Bahwa dia bersama temannya itu pernah lapor ke sekolah bahwa dia di-bully, tapi tidak ditanggapi,” kata Marthinus, Selasa (18/11/2025). Informasi ini, menurutnya, terkonfirmasi melalui pemeriksaan siswa lain hingga dari catatan pribadi sang pelaku.

banner 336x280

Dalam buku itu, remaja tersebut menulis rasa tak berdayanya, sebuah luapan kecil yang sering kali tidak terlihat oleh orang dewasa di sekelilingnya. “Bahkan dia sampai bilang bahwa, ‘Untuk apa percaya sama Tuhan, kita lapor kepada sekolah aja juga tidak ada keadilan,’ begitu,” ujar Marthinus. Ia menekankan bahwa sekolah harus lebih jujur dan terbuka dalam menanggapi potensi perundungan, karena bentuknya sering kali tidak kasatmata.

Namun, cerita dari pihak sekolah berjalan dalam arus yang berbeda. Secara terpisah, Kepala SMAN 72 Jakarta, Tetty Helena Tampubolon, membantah adanya laporan perundungan baik dari siswa maupun guru. Ia mengatakan sudah memeriksa para guru bimbingan konseling dan tidak menemukan satu pun jejak laporan seperti yang disebutkan penyidik. “Yang saya panggil memang satu, lalu saya minta tolong ke tiga guru BK lainnya, ‘siapa yang sudah dihubungi?’ Ternyata jawabannya, ‘Bu, kami enggak ada (laporan soal bully),’” kata Tetty.

Ia mengaku telah mencoba menggali keterbukaan siswa dengan cara yang lebih halus, nyaris seperti menelusuri bisik-bisik yang tak pernah terucap lantang. “Ya, sepengakuan anak-anak itu, mereka tidak tahu sebenarnya anak ini (pelaku) di-bully atau tidak. Dan sampai saya tanyakan secara mendalam dan hati-hati banget, karena saya ingin anak-anak berkata jujur,” ujarnya.

Sementara itu, kronologi ledakan di masjid sekolah pada Jumat sekitar pukul 12.15 WIB masih terus disusun ulang oleh penyidik. Ledakan pertama terdengar ketika khotbah Jumat berlangsung, disusul ledakan kedua yang datang dari arah berbeda. Masjid itu berada di dalam kompleks Kodamar TNI Angkatan Laut, Kelapa Gading, tempat siswa dan guru sedang menjalankan ibadah. Di lokasi, polisi menemukan benda yang menyerupai airsoft gun dan revolver. Setelah diperiksa, keduanya dipastikan hanya senjata mainan.

Namun, luka yang ditinggalkan insiden ini jelas nyata, 96 orang menerima perawatan akibat ledakan tersebut. Motif dan penyebab pasti tragedi ini masih ditelusuri. Namun yang kini terhampar adalah dua versi cerita, satu tentang laporan yang tak terdengar, dan satu lagi tentang laporan yang tak pernah ada. Di antara keduanya, tersisa ruang hening yang harus dijawab dengan kejujuran, ketelitian, dan kepedulian agar suara-suara kecil di sekolah tak lagi hilang begitu saja.

banner 336x280

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *