Sejarah Baru di Jakarta: Terowongan Kereta Bawah Tanah Bertingkat Pertama di Indonesia
Provinsi DKI Jakarta kembali menciptakan sejarah dengan kehadiran terowongan kereta bawah tanah bertingkat dan terdalam pertama di Indonesia. Proyek ini menjadi bukti kemajuan teknologi dan perencanaan infrastruktur yang canggih.
Salah satu faktor utama keberhasilan proyek ini adalah penggunaan teknologi Tunnel Boring Machine (TBM) yang digunakan dalam pembangunan jalur MRT Fase 2A. Teknologi ini memungkinkan pembangunan terowongan dengan presisi tinggi, sehingga tidak mengganggu struktur bangunan di permukaan.
Terowongan tersebut berada pada lintasan jalur MRT Fase 2A yang melalui Stasiun MRT Sawah Besar hingga Mangga Besar. Dengan desain stacked tunnel atau terowongan bertingkat, proyek ini berhasil mengatasi keterbatasan ruang di kawasan Gajah Mada. Kedua jalur, arah Selatan dan Utara, dibangun bertumpuk pada kedalaman hingga 28 meter. Struktur ini akan menjadi terowongan dan stasiun MRT terdalam di Indonesia.
Teknologi Canggih dalam Pembangunan
Pembangunan terowongan menggunakan mesin Tunnel Boring Machine (TBM) dengan diameter raksasa. Mesin ini sama seperti yang digunakan dalam pembangunan terowongan bawah tanah MRT Fase 1 Lebak Bulus–Bundaran HI. Setiap terowongan dalam MRT Fase 2A memiliki panjang sekitar 390 meter dengan diameter sekitar enam meter.
Dua mesin bor bekerja dari sisi utara Stasiun Harmoni menuju sisi selatan Stasiun Sawah Besar. TBM 1 bekerja di kedalaman 28 meter, sedangkan TBM 2 berada di kedalaman sekitar 10 meter di bawah permukaan tanah. Setelah menyelesaikan kedua terowongan tersebut, kedua mesin akan melanjutkan pembangunan terowongan yang menghubungkan Stasiun Sawah Besar dan Mangga Besar sepanjang 790 meter.
Rencananya, TBM 1 akan selesai membangun terowongan pada Juni 2026, sedangkan TBM 2 pada September 2026. Fase 2A ditargetkan rampung pada tahun 2029, menghubungkan Bundaran HI hingga Kota.
Pengiriman dan Pemrosesan Mesin TBM
Mesin TBM ini sejatinya telah datang ke Indonesia sejak akhir 2021. Mesin tersebut difabrikasi di salah satu pabrik multinasional Jepang, Kawasaki Heavy Industries, Ltd di Hangzhou dan Wuhu, China. TBM pertama ini datang dalam 48 bagian yang nantinya akan dirakit di lokasi pengeboran.
TBM menggunakan tipe earth pressure balance dengan diameter mesin (machine diameter) 6.800 mm, shield length 8.500 mm, dan segment diameter 6.650 mm (outer) serta 6.050 mm (inner). Mesin ini mampu membangun sekitar 7,5—8 meter per hari.
Sesuai Standar Internasional
Penggunaan tipe TBM ini didasarkan pada hasil kajian terhadap kondisi tanah di sepanjang jalur fase 2A yang didominasi oleh alluvial clay dengan beberapa lapisan diluvial clay dan diluvial sand. Mesin penggali berukuran raksasa ini telah sesuai dengan pedoman Japan International Cooperation Agency (JICA) Guideline dan dibuat dengan kualitas serta pengawasan produksi sesuai standar Jepang.
Dengan adanya proyek ini, Jakarta semakin memperkuat posisinya sebagai kota yang mengadopsi teknologi modern dalam pengembangan infrastruktur transportasi. Proyek MRT Fase 2A menjadi contoh nyata dari kolaborasi antara pemerintah dan industri teknologi global untuk menciptakan sistem transportasi yang efisien dan ramah lingkungan.

















Komentar