Laila Rahmawati: Atlet Angkat Berat yang Berjuang di Balik Medali Emas
Di balik kesuksesan meraih medali emas dalam Praporprov Jawa Tengah 2025, tersimpan kisah perjuangan seorang atlet angkat berat asal Pati, Laila Rahmawati (22). Atlet putri kelas 69 kg ini tidak hanya bertarung dengan beban besi di atas platform, tetapi juga dengan tekanan ekonomi yang memaksa dirinya menggadaikan kalung emas kesayangannya.
Di bawah tribun Stadion Joyokusumo Pati, suara besi beradu menemani latihan Laila. Ruangan berdebu, lantai rusak, dan peralatan yang menua adalah kondisi yang nyaris setiap hari ia hadapi. “Latihan terus, yang penting persiapan matang. Mau fasilitasnya kayak apa, ya harus tetap jalan,” ujar putri asli Desa Lahar, Kecamatan Tlogowungu itu.
Hampir tiap hari ia berlatih di venue yang jauh dari kata layak. Tekad untuk terus berprestasi lebih kuat daripada rasa lelah maupun kecewa pada kondisi fasilitas.
Prestasi di Tengah Keterbatasan
Kerja keras itu membuahkan hasil. Pada Oktober lalu, Laila menaklukkan lawan-lawannya di Praporprov Jateng 2025 dengan selisih angkatan yang jauh dari perak dan perunggu. “Dapat medali emas. Capaiannya jauh dari perak dan perunggu,” ucapnya bangga. Capaian itu mempertegas rekam jejak cabor angkat berat Kabupaten Pati yang konsisten menyumbang medali emas sejak 2018.
Namun di balik kemenangan itu, ada kisah lain yang jarang terdengar publik.
Gadai Kalung demi Medali Emas
Untuk bisa tampil di Praporprov, Laila membutuhkan dana persiapan: nutrisi, suplemen, bensin, hingga perlengkapan latihan. Sayangnya, uang pembinaan yang ia terima tak cukup. Tahun ini, uang pembinaan yang biasanya Rp 800 ribu per bulan turun menjadi hanya Rp 400 ribu. Suplemen Rp 400 ribu per bulan yang dahulu ia terima juga ditiadakan.
Ketika tanggal pertandingan semakin dekat, Laila melakukan satu-satunya cara yang ia punya. “Kemarin tomboknya mendekati Rp 5 juta. Saya gadaikan kalung Rp 1,5 juta. Plus ambil tabungan saya,” ungkapnya. Kalung emas itu bukan sekadar perhiasan. Itu adalah hadiah keluarga yang punya nilai emosional besar. Namun demi mempertahankan tradisi emas buat Pati dan demi tanggung jawabnya sebagai atlet, Laila merelakan benda kesayangannya. Ia juga menguras tabungannya hingga Rp 3,5 juta.
“Uang pembinaan Rp 400 ribu itu buat bensin saja habis. Belum makan, nutrisi, kebutuhan lain sebagai atlet angkat berat,” ujarnya.
Anggaran Turun, Beban Beralih ke Atlet
Laila menegaskan bahwa pengurus angkat berat sudah berusaha membantu. Namun mereka juga terikat oleh situasi anggaran yang menurun. “Pengurus sebenarnya sudah berusaha. Tapi anggarannya turun, jadi mereka juga nggak bisa banyak bantu,” katanya. Situasi ini membuat beban persiapan banyak dialihkan ke atlet.
Sebagai salah satu lumbung emas Pati, cabor angkat berat selalu tampil konsisten dalam berbagai kejuaraan. Karena itu, Laila berharap pemerintah memberikan perhatian lebih serius. “Dari 2018 emas terus. Kalau turun kan malu. Kemarin gizi dan sebagainya sampai saya gadaikan kalung. Olahraga kayak gini jarang disorot padahal potensinya besar,” tegasnya.
Emas yang Lahir dari Pengorbanan
Ia berharap kisah pengorbanannya menjadi alarm bagi pemerintah daerah untuk memperbaiki pembinaan atlet. Medali emas yang kini menggantung di kamarnya bukan hanya simbol kemenangan, tetapi simbol pengorbanan. Tidak banyak atlet yang berani melepas barang pribadi demi sebuah pertandingan.
Laila menunjukkan bahwa di Pati, masih ada atlet yang berjuang bukan karena fasilitas memadai atau dukungan besar, melainkan karena rasa cinta pada olahraga dan tekad mengharumkan daerahnya. Dan medali itu, pada akhirnya, adalah milik seluruh masyarakat Pati.
Namun, kisah di baliknya adalah pengingat: prestasi membutuhkan dukungan, bukan sekadar harapan.
















Komentar