oleh

Dulu Ganggu Perkebunan, Makaka Mesuji Kini Dikembangkan untuk Riset Kesehatan Dunia

-Nasional-4 Dilihat
banner 468x60

MESUJI, (SOROT1.ID) — Selama bertahun-tahun, keberadaan makaka menjadi masalah bagi sebagian warga di wilayah Mesuji, Tulang Bawang, dan Tulang Bawang Barat. Satwa yang sering kali masuk ke area perkebunan dan permukiman ini kerap dikeluhkan karena merusak tanaman serta mengganggu aktivitas masyarakat. Namun, kini pendekatan terhadap makaka telah berubah secara signifikan.

Melalui pusat Instalasi Pengembangan Makaka di Kabupaten Mesuji, makaka konflik diselamatkan, dirawat, dan dikembangkan sebagai bagian dari program penelitian kesehatan internasional. Pusat pengembangan yang dikelola oleh PT Biomedikal Nusantara ini berdiri di atas lahan seluas 4,9 hektare dengan kapasitas penampungan mencapai 4.000 ekor. Saat ini, fasilitas tersebut telah menampung 804 ekor makaka yang ditempatkan dalam sistem pemeliharaan khusus dan terkontrol.

banner 336x280

Kepala Badan Karantina Indonesia (Barantin), Abdul Kadir Karding, menjelaskan bahwa konflik antara manusia dan makaka terjadi karena perubahan kondisi habitat yang membuat satwa tersebut kesulitan memperoleh sumber pakan alami. Keterbatasan pakan di habitat asli menyebabkan kelompok makaka mencari sumber makanan baru hingga mendekati kawasan pertanian dan permukiman warga.

“Langkah ini menjadi jalan keluar untuk mengurangi potensi hama di pemukiman warga sekaligus memberikan dampak ekonomi yang terukur,” ujar Karding, Jumat (31/7/2026).

Bagi masyarakat yang selama ini berhadapan dengan gangguan satwa, keberadaan fasilitas tersebut diharapkan menjadi solusi agar penanganan makaka tidak lagi berakhir pada tindakan yang membahayakan satwa.

Melalui instalasi ini, makaka yang mengalami konflik dengan manusia dapat dievakuasi dan mendapatkan perawatan. Satwa tersebut kemudian menjadi bagian dari pengembangan populasi terkontrol dengan memperhatikan aspek kesehatan, kesejahteraan satwa, dan kebutuhan penelitian. Selain menjadi upaya mengurangi konflik satwa, program ini juga membuka peluang bagi Lampung untuk berkontribusi dalam bidang riset biomedis.

Makaka termasuk salah satu primata yang digunakan dalam penelitian kesehatan karena memiliki kemiripan anatomi, fisiologi, dan sistem biologis tertentu dengan manusia. Kemiripan tersebut membuat makaka dapat digunakan dalam penelitian praklinis, termasuk untuk membantu memahami mekanisme penyakit, pengembangan obat, serta pengujian kandidat vaksin sebelum masuk ke tahap penelitian berikutnya.

Direktur Biomedikal Nusantara, Reki Chandra, menjelaskan bahwa kebutuhan terhadap primata untuk penelitian masih terdapat di sejumlah negara yang memiliki fasilitas riset kesehatan.

“Nilai jual satwa ini cukup tinggi, berkisar antara 3.000 hingga 4.000 dolar AS atau sekitar Rp48 juta sampai Rp64 juta per ekor, tergantung spesifikasi, usia, dan kriteria penelitian,” kata Reki.

Ia menjelaskan, angka tersebut merupakan nilai berdasarkan kebutuhan dan spesifikasi satwa untuk kepentingan penelitian, bukan perdagangan umum. Pemanfaatannya pun dibatasi hanya untuk kegiatan ilmiah yang telah memenuhi ketentuan pemerintah.

Berdasarkan proyeksi kebutuhan pasar riset yang menjadi rujukan pengelola, Amerika Serikat memiliki potensi kebutuhan hingga sekitar 10.000 ekor makaka per tahun. Sementara itu, Indonesia juga masih menjajaki pembahasan protokol kesehatan dengan China yang memiliki kebutuhan riset lebih besar.

“Proyeksi ekspor pertahun dari Lampung rata-rata 1.000 ekor makaka,” ujarnya.

Meski memiliki nilai ekonomi, pengelolaan makaka tetap berada dalam koridor konservasi dan pengawasan negara. Satwa tersebut tidak diperuntukkan sebagai hewan peliharaan maupun konsumsi, melainkan terbatas untuk mendukung kebutuhan ilmu pengetahuan. Setiap makaka yang diproyeksikan untuk kebutuhan penelitian harus menjalani proses pemeliharaan dan karantina sekurang-kurangnya selama dua tahun.

Tahapan tersebut dilakukan untuk memastikan kondisi kesehatan satwa, termasuk pemeriksaan terhadap potensi penyakit yang dapat menular antara hewan dan manusia atau zoonosis. Selain pemeriksaan kesehatan, proses pengiriman juga harus memenuhi berbagai persyaratan administrasi. Perizinan melibatkan lembaga terkait, termasuk rekomendasi dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) serta pengawasan legalitas dari Kementerian Kehutanan.

Kehadiran pusat pengembangan makaka di Mesuji menunjukkan perubahan pendekatan dalam menangani konflik satwa liar. Makaka yang sebelumnya menjadi persoalan bagi sebagian masyarakat kini diarahkan melalui sistem terkontrol yang menggabungkan kepentingan konservasi, perlindungan masyarakat, dan dukungan terhadap perkembangan ilmu kesehatan. (Red)

Editor : Ramadhan

banner 336x280

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *