oleh

Konflik Timur Tengah Tekan Harga Bitcoin

-Ekonomi-1 Dilihat
banner 468x60

JAKARTA, (SOROT1.ID) — Konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran diproyeksikan akan terus memengaruhi prospek harga Bitcoin dalam beberapa bulan ke depan. Mengacu pada data dari Coin Market Cap, pada Minggu (26/7/2026) pukul 08.30 WIB, harga Bitcoin berada di level US$ 64.433, mengalami penurunan sebesar 0,46% dalam seminggu terakhir. Secara year to date (ytd), harga koin digital ini telah turun sekitar 26,30%.

Analis Reku Andri Fauzan menyatakan bahwa dalam situasi eskalasi konflik AS-Iran di Timur Tengah, yang masih berlangsung hingga saat ini, serta gangguan di Selat Hormuz akibat saling serang, harga minyak mentah Brent sempat mendekati atau bahkan melebihi US$ 90-US$ 100 per barel. Hal ini membuat posisi Bitcoin di kuartal III 2026 menjadi lebih rentan terhadap tekanan pasar.

banner 336x280

Saat ini, harga Bitcoin bergerak sekitar 50% di bawah titik tertinggi sebelumnya yang mencapai sekitar US$ 126.000. Menurut Andri, tekanan jual biasanya muncul lebih dulu dalam situasi seperti ini, terutama ketika inflasi energi meningkat dan ekspektasi kebijakan moneter mulai terpengaruh. Namun, ia menilai bahwa Bitcoin bisa stabil setelah tekanan awal, terutama ketika sebagian pelaku pasar mulai melihatnya sebagai alternatif penyimpan nilai yang lebih independen.

Prospek Bitcoin pada kuartal ini cenderung berhati-hati. Sinyal siklus empat tahun pasca-halving mengarah pada kemungkinan konsolidasi atau tekanan terbatas sebelum posisi yang lebih jelas terbentuk di akhir tahun. Aliran ETF spot juga memberikan sedikit dukungan, dengan total inflow sekitar $727 juta dalam lima sesi berturut-turut di pertengahan Juli. Meski begitu, aliran tersebut masih mudah berbalik.

Menurut Andri, kuartal III lebih mungkin menjadi fase penyesuaian dan konsolidasi untuk Bitcoin.

Ia menjelaskan bahwa penurunan harga Bitcoin ke sekitar US$ 58.500 pada akhir kuartal II diduga bukan hanya disebabkan oleh melemahnya fundamental, tetapi juga aksi penyesuaian portofolio atau quarter-end window dressing oleh manajer investasi.

Setelah memasuki kuartal baru, tekanan jual institusional mulai mereda dan Bitcoin mampu kembali ke area US$ 65.000. Analis Tokocrypto Fyqieh Fachrur menilai permintaan institusional mulai menunjukkan pemulihan. ETF Bitcoin spot AS sempat mencatat tujuh hari berturut-turut arus dana masuk dengan nilai mendekati US$ 1 miliar hingga 22 Juli, meskipun jumlah tersebut baru menggantikan sebagian kecil dari outflow besar yang terjadi pada Mei dan Juni.

Fyqieh menyoroti bahwa risiko utama bagi Bitcoin adalah eskalasi geopolitik antara AS dan Iran. Kenaikan harga minyak akibat konflik ini dapat meningkatkan tekanan inflasi dan membuat investor mengurangi eksposur terhadap aset berisiko, termasuk kripto.

Ia menyatakan bahwa prospek Bitcoin pada kuartal III 2026 masih cenderung volatil, tetapi mulai menunjukkan peluang pemulihan secara bertahap.

Pergerakan harga Bitcoin selanjutnya akan dipengaruhi oleh beberapa sentimen:

 

Perkembangan konflik AS-Iran

Eskalasi konflik dapat mendorong kenaikan harga minyak dan meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi global. Kondisi ini biasanya membuat investor beralih ke aset defensif dan mengurangi eksposur pada aset berisiko seperti saham teknologi dan kripto. Namun, jika ketegangan mereda, selera risiko investor berpotensi kembali dan memberikan ruang pemulihan bagi Bitcoin.

 

Kebijakan moneter Federal Reserve

Pasar akan memperhatikan data inflasi, kondisi tenaga kerja, dan arah suku bunga AS. Inflasi yang tetap tinggi atau sinyal kenaikan suku bunga dapat memperkuat dolar AS dan menekan likuiditas pada aset berisiko. Sebaliknya, sikap The Fed yang lebih longgar atau peluang penurunan suku bunga dapat menjadi katalis positif bagi Bitcoin.

 

Arus dana ETF Bitcoin spot

Arus masuk ETF mencerminkan permintaan dari investor institusional dan dapat memberikan tekanan beli di pasar. Pada Juli, ETF Bitcoin mulai kembali mencatatkan inflow setelah mengalami tekanan outflow cukup besar pada Mei dan Juni. Namun, skala pemulihannya masih belum konsisten, sehingga pasar perlu melihat apakah tren inflow tersebut dapat bertahan dalam beberapa pekan berikutnya.

Andri menilai proyeksi harga Bitcoin di kuartal III masih lebar. Dari perspektif teknis, kemungkinan pergerakan harga Bitcoin berada di kisaran US$ 60.000-US$ 75.000 dengan kecenderungan konsolidasi. Skenario lebih berat membuka ruang tes ke area US$ 50.000 – US$ 57.000 jika tekanan berlanjut. Di sisi lain, skenario lebih baik membuka peluang rebound menuju US$ 80.000 jika ketegangan mereda dan aliran modal menguat. (Red)

Editor : Ramadhan

banner 336x280

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *